Amilia Agustin: Ratu Sampah Sekolah

Ratu Sampah Sekolah, begitu ia dijuluki. Perempuan kelahiran Bandung, 20 April 1996 ini adalah contoh generasi muda yang semangat berkarya untuk perubahan, mendedikasikan diri bagi masyarakat melalui gerakan peduli lingkungan. Bagi Amilia Agustin, merawat lingkungan bukanlah monopoli orang dewasa. Berawal dari kegelisahannya melihat onggokan sampah di lingkungan sekolah, Ami, begitu ia biasa disapa, terdorong membentuk komunitas yang mengelola sampah, lewat program “Go to Zero Waste School.” Program Go to Zero Waste School, dibagi dalam empat bidang pengelolaan sampah, yaitu pengelolaan sampah anorganik, pengelolaan sampah organik, pengelolaan sampah tetrapak, dan pengelolaan sampah kertas. Dari empat cara pengelolaan sampah itu, Ami dan komunitasnya bisa membuat tas dan pupuk kompos. Ami memulai karya perubahan ini pada usia sangat muda, 12 tahun, ketika masih duduk di kelas 2 SMP. Ami adalah sosok generasi muda yang patut menjadi teladan bagi kita dan anak-anak kita. Meski muda belia, ia telah mempunyai visi jauh ke depan, dan beraksi nyata demi penyelamatan bumi. Tak heran, pada tahun 2009, Ashoka Indonesia memilihnya sebagai salah satu Young Changemaker. Ami juga menerima penghargaan Satu Indonesia Awards pada 2010. Ia layak menjadi inspirasi bagi semua, terutama anak muda.

Gamal Albinsaid: A Young Doctor Paid in Trash

While as a medical student at Brawijaya University in Malang, East Java, Gamal Albinsaid heard the harrowing story of a young girl lying lifeless on top of a pile of garbage at the young age of 3. Her name was Khairunnisa, or Nisa, and she had succumbed to diarrhoea that led to her life being lost. Being a trashpicker, her father was not able to bring her to a hospital due to a lack of funding and thus, Nisa was only able to make do with whatever they had available for treatment. Sadly, her life was unable to be saved against the diarrhoea that many of us can find treatment for it easily – but not for her. The tragic story of Nisa created a deep impression on Gamal Albinsaid to a point where he was inspired to care and provide the less-fortunate with sufficient treatment. Now, the 27-year old from Malang, East Java is now known locally and overseas as “The Garbage Doctor”. Through the Garbage Insurance Clinic that he established, Gamal is able to provide free medical care to the less fortunate who are only required to pay using trash. His noble venture has captured the heart of the world where in 2012, Gamal was chosen as a Young Changemaker by Ashoka (a global social entrepreneurship organization). Two years later, Gamal was given the “Sustainable Living Youth Entrepreneurs” award from the British Royal Family in the start of 2014. He won first place out of 510 contestants spanning over 90 different countries. His accomplishment won him a trip to London and a face-to-face meeting with Prince Charles himself.

GAMAL ALBINSAID: DOKTER MUDA BERUPAH SAMPAH

Ketika masih menjadi mahasiswa kedokteran Universitas Brawijaya, Gamal Albinsaid mendengar berita pilu tentang seorang anak berusia 3 tahun, yang meninggal di atas tumpukan sampah. Khairunnisa atau Nisa, demikian nama bocah itu, menderita diare. Sang Ayah yang seorang pemulung tidak dapat membawanya berobat ke rumah sakit. Karena kekurangan biaya, Nisa hanya mendapat pengobatan seadanya. Nahas, bocah itu akhirnya meregang nyawa karena tak kuat melawan diare yang dideritanya. Kisah tragis Khairunnisa memberi kesan mendalam bagi Gamal Albinsaid, dan kelak menjadi inspirasinya untuk peduli membantu kaum miskin yang tidak dapat mengakses pengobatan layak. Pemuda 27 tahun, asal Malang, Jawa Timur ini, kini dikenal luas hingga mancanegara sebagai dokter sampah. Melalui klinik asuransi sampah yang didirikannya, Gamal memberi layanan pengobatan gratis kepada kaum miskin yang hanya membayarnya dengan sampah. Gagasan cemerlang Gamal membuat mata dunia terharu. Tahun 2012, Gamal terpilih sebagai pemuda pembaharu (Young Changemaker) oleh Ashoka (organisasi kewirausahaan sosial global). Dua tahun berselang, Gamal diganjar penghargaan Suistainable Living Youth Entrepeneurs dari Kerajaan Inggris pada awal 2014. Gamal menjadi juara pertama, menyisihkan 510 peserta dari 90 negara. Ia terbang ke London dan bertemu muka langsung dengan Pangeran Charles.