Ara Kusuma: Yang Muda Yang Membangun Desa

Salam kenal dari seorang gadis cerdas, changemaker muda asal Salatiga, Jawa Tengah, namanya Kusuma Dyah Sekararum, biasa disapa Ara Kusuma. Di saat anak-anak seusianya lebih banyak menghabiskan waktu mereka untuk bermain, sejak satu dekade lalu, Ara telah berpikir dan bertindak jauh melampaui usia fisiknya. Ia mengembangkan program desa berbasis home industry dengan memberdayakan potensi desa setempat. Pada usia 10 tahun, Ara berkolaborasi dengan warga Desa Sukorejo, sebuah sentra peternakan sapi perah di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, mengembangkan konsep incorporated village dengan memanfaatkan seluruh potensi sapi untuk meningkatkan perekonomian warganya. Inisiatif bernama Moo’s Project ini berfokus mengolah semua potensi ekonomi yang ada pada sapi mulai dari susu sapi, daging sapi, kotoran sapi, urine sapi, pengolahan biogas, serta agrowisata dan penghijauan. Inisiatif ini membuat Ara dikenal luas dan mengantarkannya menjadi salah satu anggota termuda dalam jaringan Young Changemaker yang digagas Ashoka, sebuah organisasi kewirausahaan sosial global. Ashoka memilih Ara sebagai Young Changemaker pada tahun 2008, ketika usianya belum genap 11 tahun.

Advertisements

IRFAN AMALI: MANIFESTASI INDONESIA DAMAI

Bagaimana cara membuat anak-anak muda memandang perdamaian sebagai sesuatu yang “asyik”, kemudian memilih menjadikannya gaya hidup? Tanyakan resepnya pada Irfan Amali, tokoh muda yang berkarya menyebarkan nilai perdamaian. Sejak 2007 silam, CEO di Penerbit Mizan ini merintis organisasi perdamaian bernama Peace Generation. Melalui lembaga ini, Irfan berjuang mempromosikan perdamaian dengan cara-cara kreatif seperti melalui permainan, ilustrasi dan buku, film, pelatihan, camping hingga konser musik. ”Cita-cita saya, melahirkan ribuan anak yang menjadi peacemaker, agen perdamaian, generasi damai di Indonesia,” tutur Irfan. Sejarah Peace Generation berawal dari pertemuan Irfan dengan seorang bule asal Amerika bernama Eric Lincoln pada tahun 2006. Saat itu Eric menjadi guru Bahasa Inggris di kantor penerbit Mizan, sementara Irfan adalah salah satu siswanya. Meski berbeda negara, Eric dan Irfan memiliki banyak persamaan. Eric lahir di keluarga Kristen yang taat, begitupun Irfan tumbuh dalam keluarga Muslim yang relijius. Eric dan Irfan sama-sama yakin bahwa agama mengajarkan perdamaian. Sejak saat itulah keduanya menjadi sahabat. Mereka bekerja sama membuat model pendidikan perdamaian interaktif pertama di Indonesia. Di bawah bendera Peace Generation, mereka menginisiasi banyak program untuk mengampanyekan nilai perdamaian, melahirkan ribuan agent of peace, serta menumbuhkan banyak sekolah welas asih atau compassionate schools.

Onno W. Purbo: Hidup untuk Membawa Manfaat

Nilai seseorang tidak tentukan oleh banyaknya harta, kekayaan, pangkat atau ilmu. Nilai seseorang ditentukan oleh seberapa besar manfaat yang telah diberikannya bagi orang lain. Inilah prinsip hidup sosok pria sederhana yang dikenal sebagai Pakar Internet Indonesia, Onno Widodo Purbo. Jauh sebelum ponsel menjangkau pelosok-pelosok Nusantara, Onno telah berkiprah membagikan pengetahuan yang dimilikinya dengan satu tujuan, agar orang Indonesia melek internet dan teknologi berpihak pada kesejahteraan kaum alit. Dengan cara-cara kreatif, Onno mengembangkan berbagai solusi untuk menciptakan layanan internet dan telekomunikasi murah bagi masyarakat. Salah satu karya Onno yang fenomenal adalah Wajanbolic, yang pernah menjadi solusi bagi banyak orang di pelosok desa supaya dapat terkoneksi dengan internet. Ia juga pernah menggagas penerapan Open Base Transceiver Station (BTS) dan RT/RW-Net, layanan internet murah untuk RT/RW. Semangat menyebar manfaat inilah yang meyakinkan Onno untuk berkiprah di jalur independen. Ia tak tergiur tawaran gaji besar yang membuatnya terikat dengan perusahaan ataupun instansi. Onno lebih memilih untuk tetap menjadi guru, sebagai upaya untuk mencerdaskan bangsa dengan ilmu yang dimilikinya.

Butet Manurung: The Advocate of Indigenous Indonesian

“I remember when I was little; I loved to read story books. Then there were a lot of questions in my head: Do my friends out there like to read books too? If they have books, can I exchange books with them? It started from these innocent questions that I started a library at home. At that time I was, maybe, in the second grade. I invited my friends to read; I took only a few cents per person, but it was voluntary, some would pay and some would not. Some would borrow books but never returned them, and after a few years I ran out of books.”, recalled Butet when she first learned to organize other people to create something positive. Blessed with a smart mind, achieving in many subjects from math to sports has inspired Butet to help her friends that are falling behind. It was here that her talent for teaching slowly developed. “My friends would ask me to be the teacher, maybe because they did not want the class to be boring. I asked them to play ‘Teachers and Classrooms’. They became my students and I was their teacher. I created a few play models such as playing quizzes or discussion groups. Usually I would tempt them with the prize of a cake or candy as an incentive. I did that from elementary through high school. Until I was a teacher for my students in Rimba, I realize that my childhood experience being a teacher was very valuable. I had a rich creativity to teach.” As an educator, Butet holds a principle that a good teacher is someone who is able to learn from their students, and also from the weaknesses of teachers before them. She really applied this principle when she was a teacher of the Anak Dalam Tribe in the depths of Jambi. Butet taught reading and writing through an anthropological approach. Butet learnt from them the language and wisdom of the Rimba People.

Butet Manurung: Advokat Masyarakat Adat Indonesia

Sejak tahun 1999 hingga 2003, Butet menyusuri pedalaman rimba, menjadi guru bagi Suku Anak Dalam di Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi. Butet dan murid-muridnya tak punya ruang kelas permanen. Mereka belajar beralas batang pohon yang sudah tumbang atau di atas bebatuan. Jatuh bangun Butet berusaha mengenalkan aksara dan angka pada Orang Rimba. Tak serta merta kebaikan hatinya diterima. Butet sempat merasakan putus asa karena penolakan dari warga asli. Mereka takut ditipu bahkan menganggap pendidikan menyalahi adat dan budaya. Namun Butet tidak menyerah, ia terus berusaha. Orang Rimba butuh diyakinkan, bukan dipaksa. Butet tinggal bersama mereka, tidur di tempat yang sama, makan apa yang mereka makan. Ia mengamalkan empati yang dalam, mengalami langsung jadi bagian dari Orang Rimba. Butet ikut berpindah-pindah dari satu desa ke desa lain, namun tetap konsisten mengajarkan satu hal yang sama, agar mereka mampu baca dan tulis. Empat tahun lamanya berjuang bersama Orang Rimba, Butet akhirnya merasakan hasilnya. Kemampuan literasi membuat Orang Rimba berdaya. Mereka mampu memahami persoalan hukum terutama tentang pembalakan liar agar mereka tak ditipu lagi, mereka tahu bagaimana cara membela dan mempertahankan tanah milik mereka.