Sri Wahyaningsih: Pendiri SALAM, Sekolah yang Memerdekakan

Hampir 2 dekade berdiri, kini SALAM telah membuka kelas mulai dari Kelompok Bermain (PAUD) hingga SMP dan berencana segera merambah jenjang SMA. Kurikulum di SALAM sangat berbeda dengan kurikulum pada sekolah formal. SALAM mendampingi anak dalam berekspresi melalui sumber-sumber yang ada di lingkungannya, serta memfasilitasi anak bereksplorasi di alam. Anak-anak belajar dari realita yang dekat dengan mereka, belajar dari apa yang mereka sukai. SALAM juga membebaskan anak untuk tidak berseragam ketika pergi ke sekolah. Tempat belajar mereka ada di tengah hamparan sawah. Dari alam mereka belajar kehidupan, menemukan jati diri dari akar sosial budayanya sendiri. Pendidik di Sanggar Anak Alam disapa dengan sebutan ‘fasilitator’, bukan guru. Namun sistem pembelajaran di SALAM tidak hanya melibatkan anak dengan fasilitator saja. SALAM mengajak orang tua untuk berpartisipasi menjadi fasilitator di rumah, atau dengan kata lain, orang tua juga turut belajar. Sampai saat ini, SALAM berhasil membangun ekosistem pendidikan partisipatif, melibatkan lebih dari 400 orang, terdiri dari siswa, fasilitator dan orang tua.

Advertisements