Butet Manurung: Advokat Masyarakat Adat Indonesia

Sejak tahun 1999 hingga 2003, Butet menyusuri pedalaman rimba, menjadi guru bagi Suku Anak Dalam di Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi. Butet dan murid-muridnya tak punya ruang kelas permanen. Mereka belajar beralas batang pohon yang sudah tumbang atau di atas bebatuan. Jatuh bangun Butet berusaha mengenalkan aksara dan angka pada Orang Rimba. Tak serta merta kebaikan hatinya diterima. Butet sempat merasakan putus asa karena penolakan dari warga asli. Mereka takut ditipu bahkan menganggap pendidikan menyalahi adat dan budaya. Namun Butet tidak menyerah, ia terus berusaha. Orang Rimba butuh diyakinkan, bukan dipaksa. Butet tinggal bersama mereka, tidur di tempat yang sama, makan apa yang mereka makan. Ia mengamalkan empati yang dalam, mengalami langsung jadi bagian dari Orang Rimba. Butet ikut berpindah-pindah dari satu desa ke desa lain, namun tetap konsisten mengajarkan satu hal yang sama, agar mereka mampu baca dan tulis. Empat tahun lamanya berjuang bersama Orang Rimba, Butet akhirnya merasakan hasilnya. Kemampuan literasi membuat Orang Rimba berdaya. Mereka mampu memahami persoalan hukum terutama tentang pembalakan liar agar mereka tak ditipu lagi, mereka tahu bagaimana cara membela dan mempertahankan tanah milik mereka.

Advertisements