Yohanes Surya: Tidak Ada Anak Bodoh

“Tidak ada anak bodoh, yang ada hanyalah mereka yang belum dapat kesempatan belajar dari guru yang kompeten dan metode yang efektif”, demikian prinsip fisikawan Indonesia, Yohanes Surya. Menurut pendiri Surya Institute ini, semua anak dibekali kemampuan untuk berhasil termasuk dalam pelajaran-pelajaran yang dianggap momok, dua diantaranya sains dan matematika. Hanya saja metode yang digunakan harus mudah dan menyenangkan. Atas dasar prinsip inilah, Prof. Yo demikian ia biasa disapa, mengembangkan metode pendidikan sains dan matematika dengan konsep “Gampang, Asyik dan Menyenangkan” yang disingkat GASING.

Berkiprah sejak tahun 2006, tim Surya Institute telah melatih ribuan guru dan siswa di seluruh Indonesia, mengenalkan mereka konsep sains dan matematika GASING, melahirkan banyak juara-juara olimpiade dari pelosok-pelosok Indonesia.

YohanesSurya

***

Surya Institute didirikan oleh Yohanes Surya, sebagai pengembangan TOFI (Tim Olimpiade Fisika Indonesia) yang dipimpinnya, sekaligus untuk mengonsolidasi berbagai aktivitas di bidang pendidikan yang dijalaninya. Misi Surya Institute adalah untuk memajukan, mempromosikan, serta mempopulerkan pembelajaran sains dan matematika di Indonesia, dengan motto “Gampang, Asyik dan Menyenangkan.”

Surya Institute memiliki visi besar, yakni melalui pendidikan sains dan matematika dengan konsep GASING, karya penelitian ilmiah serta pengembangan teknologi akan tumbuh subur di antara generasi muda bangsa. Yang antara lain akan meningkatkan keterkaitan antara para ilmuwan/engineer dengan masyarakat bisnis. Sehingga Indonesia akan memiliki banyak sumber daya berkualitas yang bisa memberi kontribusi besar dan bermanfaat bagi masyarakat lokal maupun internasional, dan sekaligus mentransformasi Indonesia melalui sains dan teknologi.

Untuk mewujudkan visi besar ini, Surya Institute menjalankan sejumlah program atau agenda utama, antara lain:

1. Penelitian dan Pengembangan

Meneliti dan mengembangkan metode pengajaran dan pembelajaran Fisika dan Matematika dengan konsep GASING (Gampang, Asyik dan Menyenangkan) yang inovatif, efektif, dan tepat guna untuk siswa Indonesia. Metode ini disajikan dalam berbagai bentuk media, berupa media cetak, alat peraga, CD, video serta e-learning. Metode ini sudah diuji coba pada sampel anak-anak dari Papua dan sedang dikembangkan ke seluruh Indonesia melalui berbagai cara.

2. Pelatihan Guru dan Siswa

Sejak tahun 2009 Prof. Yohanes Surya bekerjasama dengan pemerintah daerah-daerah tertinggal mengembangkan Matematika GASING (Gampang Asyik dan menyenangkan), dimana anak-anak daerah tertinggal itu dapat belajar matematika dengan mudah. Siswa yang dianggap “bodoh” ternyata mampu menguasai matematika kelas 1-6 SD dalam waktu hanya 6 bulan. Program ini sekarang sedang diimplementasikan diberbagai daerah tertinggal terutama di Papua.

3. Pelatihan Siswa Olimpiade dan Seminar

MetodeGasing

***

Yohanes Surya lahir di Jakarta pada tanggal 6 November 1963. Ia memperdalam fisika pada jurusan Fisika MIPA Universitas Indonesia hingga tahun 1986, mengajar di SMAK I Penabur Jakarta hingga tahun 1988 dan selanjutnya menempuh program master dan doktor di College of William and Mary, Virginia, Amerika Serikat. Program masternya diselesaikan pada tahun 1990 dan program doktor di tahun 1994 dengan predikat cum laude. Setelah mendapatkan gelar doktor, Yohanes Surya menjadi Consultant of Theoretical Physics di TJNAF/CEBAF (Continous Electron Beam Accelerator Facility) Virginia – Amerika Serikat (1994). Walaupun sudah punya Green card (izin tinggal dan bekerja di Amerika Serikat), Yohanes Surya pulang ke Indonesia dengan tujuan ingin mengharumkan nama Indonesia melalui olimpiade Fisika (semboyannya waktu itu adalah “Go Get Gold”) serta mengembangkan pendidikan Fisika di Indonesia.

Pulang dari Amerika, Yohanes melatih dan memimpin Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI). Ia juga  menjadi pengajar dan peneliti pada program pascasarjana UI untuk bidang fisika nuklir (1995–1998). Sejak tahun 1993 hingga 2007 siswa-siswa binaannya berhasil mengharumkan nama bangsa dengan menyabet 54 medali emas, 33 medali perak dan 42 medali perunggu dalam berbagai kompetisi Sains/ Fisika Internasional. Pada tahun 2006, seorang siswa binaannya meraih predikat Absolute Winner (Juara Dunia) dalam International Physics Olympiad (IphO) XXXVII di Singapura.

Sejak tahun 2000, Yohanes Surya banyak mengadakan pelatihan untuk guru-guru Fisika dan Matematika di hampir semua kota besar di Indonesia, di ibukota kabupaten/ kotamadya, sampai ke desa-desa di seluruh pelosok Nusantara dari Sabang hingga Merauke, termasuk pesantren-pesantren. Selanjutnya untuk mewadahi pelatihan-pelatihan ini, Yohanes Surya kemudian mendirikan Surya Institute. Surya Institute juga menjadi TOFI center yakni pusat pelatihan guru maupun siswa yang akan bertanding di berbagai kejuaraan sains/fisika.

Tak hanya mengajar, Yohanes Surya merupakan penulis produktif untuk bidang Fisika/Matematika. Ada 68 buku sudah ia tulis untuk siswa SD sampai SMA. Selain menulis buku, ia juga menulis ratusan artikel Fisika di jurnal ilmiah baik nasional maupun internasional, dan sejumlah media di tanah air seperti harian KOMPAS, TEMPO, Media Indonesia dan lain-lain. Ia juga mencetuskan istilah MESTAKUNG (semesta mendukung) dan tiga hukum Mestakung. Pada tahun 2007, Yohanes menulis buku “Mestakung: Rahasia Sukses Juara Dunia” yang mendapatkan penghargaan sebagai penulis Best Seller tercepat di Indonesia. Selain menulis, Yohanes Surya juga sebagai narasumber berbagai program pengajaran Fisika melalui CD ROM untuk SD, SMP dan SMA. Ia juga ikut memproduksi berbagai program TV pendidikan diantaranya “Petualangan di Dunia Fantasi”, dan “Tralala-trilili” di RCTI.

Yohanes Surya juga berkiprah dalam berbagai organisasi internasional sebagai Board member of the International Physics Olympiad, Vice President of The First step to Nobel Prize (1997-sekarang); Penggagas dan President Asian Physics Olympiad (2000-sekarang); Chairman of The first Asian Physics Olympiad, di Karawaci, Tangerang (2000); Executive member of the World Physics Federation Competition; Chairman of The International Econophysics Conference (2002); Chairman the World Congress Physics Federation (2002); Board of Experts di majalah National Geographic Indonesia serta menjadi Chairman of Asian Science Camp (2008) di Denpasar, Bali.

Tahun 2010, Yohanes Surya mendirikan STKIP (Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan) SURYA, untuk mencetak guru-guru yang berkualitas dari berbagai daerah tertinggal di Indonesia. Tiga tahun kemudian, ia mendirikan Surya University, perguruan tinggi berbasis riset yang didukung oleh ratusan ilmuwan dan lebih dari 77 research center. Yohanes bercita-cita, kelak Surya University akan menjadi pilar utama Indonesia Jaya tahun 2030

Sepanjang kariernya, Yohanes Surya diganjar banyak penghargaan dari dalam negeri maupun internasional. Ia pernah mendapatkan berbagai award/fellowship antara lain CEBAF/SURA award AS ’92-93 (salah satu mahasiswa terbaik dalam bidang fisika nuklir pada wilayah tenggara Amerika), penghargaan kreativitas 2005 dari Yayasan Pengembangan Kreativitas, anugerah Lencana Satya Wira Karya (2006) dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Pada tahun yang sama, ia terpilih sebagai wakil Indonesia dalam bidang pendidikan untuk bertemu dengan Presiden Amerika Serikat, George W. Bush. Dan tahun 2008 mendapat award sebagai Pahlawan Masa Kini pilihan Modernisator dan majalah TEMPO. Yohanes Surya juga mendapatkan banyak penghargaan dari Menpora, Radio Elshinta, Harian Merdeka, Metro TV Award, Penghargaan “Icon anak Muda” dari Radio Trax FM, Koran Jakarta Award, Penghargaan Harian Republika sebagai “Tokoh perubahaan 2009, Penghargaan Seputar Indonesia Social Transformer 2011, Sakti Award 2012, BNSP Competency Award 2012 kategori Tokoh Pendidikan Akademisi dan Soegeng Sarjadi Award on Good Governance 2013 kategori Tokoh Inspirator Publik untuk Kemajuan Sains.

Tahun 2008, Yohanes Surya terpilih sebagai Ashoka Fellow, berkat kerja kerasnya mentransformasi pendidikan sains dan matematika di Indonesia, dan fokus memajukan kualitas pendidikan di daerah tertinggal.


Sumber: Surya Institute

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s