Onno W. Purbo: Hidup untuk Membawa Manfaat

Onno-W.-Purbo_resize-300x262
Sumber: www.ut.ac.id/icde2011/onno-w-purbo/

Nilai seseorang tidak tentukan oleh banyaknya harta, kekayaan, pangkat atau ilmu. Nilai seseorang ditentukan oleh seberapa besar manfaat yang telah diberikannya bagi orang lain. Inilah prinsip hidup sosok pria sederhana yang dikenal sebagai Pakar Internet Indonesia, Onno Widodo Purbo.

Jauh sebelum ponsel menjangkau pelosok-pelosok Nusantara, Onno telah berkiprah membagikan pengetahuan yang dimilikinya dengan satu tujuan, agar orang Indonesia melek internet dan teknologi berpihak pada kesejahteraan kaum alit. Dengan cara-cara kreatif, Onno mengembangkan berbagai solusi untuk menciptakan layanan internet dan telekomunikasi murah bagi masyarakat. Salah satu karya Onno yang fenomenal adalah Wajanbolic, yang pernah menjadi solusi bagi banyak orang di pelosok desa supaya dapat terkoneksi dengan internet. Ia juga pernah menggagas penerapan Open Base Transceiver Station (BTS) dan RT/RW-Net, layanan internet murah untuk RT/RW.

“Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat buat orang lain. Jadi buat apa kaya, pintar, punya jabatan tinggi kalau tidak bermanfaat untuk orang lain?”, ujar lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mengutip salah satu hadist yang menjadi inspirasinya.

Semangat menyebar manfaat inilah yang meyakinkan Onno untuk berkiprah di jalur independen. Ia tak tergiur tawaran gaji besar yang membuatnya terikat dengan perusahaan ataupun instansi. Onno lebih memilih untuk tetap menjadi guru, sebagai upaya untuk mencerdaskan bangsa dengan ilmu yang dimilikinya.

Kiprah Onno memasyarakatkan internet murah di Indonesia membuatnya diganjari banyak penghargaan nasional maupun internasional. Salah satunya, sejak tahun 2005, ia dinobatkan sebagai Senior Fellow oleh Ashoka, sebuah organisasi global yang mendukung karya-karya kewirausahaan sosial.

***

Beberapa saat lalu kami mengontak Onno untuk wawancara dan penulisan “story of change”, cerita perubahan dari para Ashoka Fellow dan Young Changemaker. Fokus penulisan cerita perubahan ini pada pengalaman masa kecil dan masa muda dari para changemaker (pembaharu) yang terhubung dalam jaringan Ashoka. Ashoka berharap kisah-kisah para changemaker seperti Onno W. Purbo bisa menjadi salah satu learning tool bagi para orang tua dan guru dalam upaya melahirkan para changemaker (pembaharu) sejak usia dini.

Berikut petikan wawancara antara Onno W. Purbo kepada Wilibrodus Marianus (Ashoka Indonesia Youth Coordinator).

***

Coba ingat-ingat lagi masa kecil Pak Onno, termasuk kondisi keluarga, pola asuh orang tua dan masa sekolah. Adakah pengalaman penting di masa kecil yang sangat berdampak, sehingga membentuk Bapak menjadi pembaharu (changemaker)?

Saya fokus di masa sekolah. Kebetulan ayah saya seorang guru atau dosen jadi cara mendidiknya lebih sebagai pendorong. Ayah saya sering memberi dorongan, meng-encourage kami anak-anaknya untuk terbiasa mengeksplorasi banyak hal, misalnya:

Pertama, saat SMP. Saya dan adik mulai bergabung dalam perkumpulan penggemar aeromodeling. Dalam organisasi itu, kami belajar membuat sendiri pesawat terbang layang,  pakai kayu balsa dengan panjang sayap sekitar 30cm. Ini berlanjut hingga SMA. Berbekal pengetahuan itu saya merancang sendiri pesawat layang dengan panjang sayap 1,5 meter, berhasil dibuat menggunakan kayu balsa dan bisa terbang. Saat SMA, saya juga berhasil membuat pemancar radio sendiri.

Kedua, saya juga aktif di Pramuka dan menjadi anggota Pendaki Gunung saat SMP dan SMA. Ini barangkali yang membentuk saya menjadi pribadi yang tangguh. Saya juga adalah ketua regu pramuka di sekolah.

Berlanjut hingga mahasiswa, saya mendirikan Divisi Komputer di Himpunan Mahasiswa Elektro ITB yang sampai hari ini masih berjalan. Di sini saya belajar bahwa untuk menggerakan sesuatu tidak bisa sekadar membuat struktur organisasi, kita butuh manusia untuk mengawaki-nya. Saya kebetulan adalah ketua pertamanya juga. Saat kuliah, saya juga banyak mendengarkan diskusi antara ayah saya dengan para mahasiswanya tentang community based development, bottom up development. Saya yakin menjadi pola dasar yang melatih saya menjadi changemaker di kemudian hari.


Ashoka percaya 4 nilai utama yang dimiliki tiap pembaharu (changemaker) yaitu empathy, leadership, teamwork, dan problem solving. Adakah pengalaman-pengalaman di masa muda yang membantu Bapak mengasah nilai-nilai tersebut?

Kita bahas satu persatu. Pertama Empathy. Saya memupuk nilai empati terutama karena perjalanan sebagai pendaki gunung, serta kebiasaan mendengarkan diskusi para mahasiswa dengan ayah saya, isinya sebagian besar mengenai lingkungan hidup dan rakyat miskin. Itu melatih saya menjadi peduli.

Kedua Leadership. Saya melatih kemampuan menjadi pemimpin saat dipercaya sebagai ketua regu pramuka, pendiri divisi komputer Himpunan Mahasiswa Elektro ITB sekaligus sebagai ketua pertama divisi tersebut.

Ketiga Teamwork. Tentunya banyak diasah di pramuka, saat mendaki gunung maupun di himpunan mahasiswa.

Keempat Problem solving. Saya mengasah keterampilan ini ketika membuat pesawat terbang sendiri juga membuat pemancar radio sendiri. Itu saat saya masih sekolah di SMP dan SMA.


Sejak kapan Pak Onno mulai melakukan aksi-aksi pembaharuan? Adakah masa kritis atau turning point yang mempengaruhinya?

Mungkin saat yang paling ekstrem itu terjadi pada bulan Februari tahun 2000 saat saya mengundurkan diri sebagai dosen di ITB dan tidak bekerja dimana-mana. Saya tidak dapat gaji, tidak dapat pesangon, bahkan mengembalikan gaji terakhir. Saya menolak semua kerjaan, menolak kerjaan sebagai konsultan dan lain-lain. Itu semua untuk cita-cita sederhana, keinginan agar bisa memandaikan (mencerdaskan) bangsa Indonesia dengan ilmu yang saya miliki.

Latar belakangnnya sederhana sekali. Waktu masih jadi dosen di ITB, saya cukup frustasi melihat kenyataan bahwa saya hanya bisa memandaikan sekitar 100 mahasiswa tiap semester. Akhirnya saya mengundurkan diri supaya bisa memandaikan sebanyak mungkin orang. Sejak itu belasan tahun saya hanya fokus menulis buku, menulis artikel dan memandaikan rakyat saja. Alhamdulillah masih hidup. Silahkan dibaca efeknya di Sejarah Internet Indonesia.


Siapa 3 orang yang paling berpengaruh dalam hidup Pak Onno dan mengapa?

Pertama, ayah saya sendiri Prof. Hasan Poerbo, beliau yang memberikan landasan mengenai community building. Kedua, Prof. Samaun Samadikun, beliau yang memberikan dasar-dasar untuk menjadi ilmuwan dan juga kemampuan menulis yang baik. Ketiga Prof. Iskandar Aliyahbana, beliau yang banyak menantang saya untuk melakukan perubahan. Jadi setiap changemaker perlu mentor yang tepat.


Apa latar belakang sehingga Bapak berinisiatif membuat gebrakan khusunya di bidang IT bagi rakyat kecil?

Filosofinya sederhana sekali. Sebetulnya seseorang tidak akan dinilai dari tingginya jabatan, banyaknya kekayaan, tingginya gelar akademik. Nilai seseorang lebih banyak diperoleh karena manfaatnya pada orang lain. Semakin banyak orang yang memperoleh manfaat semakin tinggi nilai seseorang tersebut.


Bagaimana memulai dan menjaga karya-karya perubahan yang sudah Pak Onno kerjakan tetap berlanjut dan berkembang?

Sebuah inisiatif akan sustain dan berkembang dengan sendirinya saat inisiatif atau ide tersebut bermanfaat untuk orang banyak dan ilmunya dikuasai oleh banyak orang. Jadi saya tidak pernah kuatir masalah sustainability. Dari semua inisiatif yang saya buat, justru sebagian besar yang mematikan ide tersebut adalah kebijakan pemerintah yang kebetulan tidak terlalu pro rakyat kecil.


Setelah sekian tahun mendedikasikan diri di bidang teknologi informasi, apa dampak yang Bapak peroleh sejauh ini?

Sebetulnya ada banyak contoh sederhana sekali. Tahun 2000-an sambungan 24 jam ke Internet kecepatan 64Kbps harganya sekitar Rp4 juta/bulan, saat ini sambungan 24 jam kecepatan 10Mbps bisa di peroleh dengan harga Rp300.000/bulan.

Dulu hanya segelintir orang yang mengerti Internet, hari ini 20% rakyat Indonesia tersambung ke Internet. Tentunya ini masih jauh dari sempurna, sampai akhir hayat saya nantipun tidak akan pernah mencapai kondisi ideal yang saya inginkan.


Apa impian atau visi Pak Onno selanjutnya?

Visi saya sederhana saja. Dari dulu hanya ingin melihat bangsa ini bisa menjadi pandai, bisa berkiprah mengandalkan otaknya bukan ototnya. Visi ini hanya bisa terwujud saat 80 sampai 90% bangsa Indonesia tersambung ke Internet dan semua guru dan sekolah bisa belajar berbasis komputer.


Menurut Bapak, apa saja nilai-nilai utama yang harus dimiliki seorang pembaharu (changemaker)? Apa pesan Bapak untuk generasi muda?

Sebetulnya nilai itu ada di agama. Umumnya orang akan mengikuti apa yang digariskan oleh pemberi kerja atau atasannya karena kariernya tergantung pada atasan tersebut. Bayangkan saya belasan tahun tidak bekerja pada siapa-siapa.

Akibatnya saya hanya mengikuti apa yang digariskan oleh pencipta manusia yang bisa dibaca di kitab suci, dalam hal ini bagi saya adalah Al Quran.

Satu kata mutiara yang saya suka: Nilai seseorang tidak akan ditentukan oleh banyaknya harta, banyaknya kekayaan, tingginya pangkat dan jabatan, tingginya gelar, atau banyaknya ilmu. Nilai seseorang lebih ditentukan oleh berapa besar atau banyak umat manusia yang memperoleh manfaat dari orang tersebut. Dari pengalaman pribadi saya selama belasan tahun di lapangan, Indonesia mungkin miskin, tapi bangsa Indonesia bukan bangsa yang bodoh, bahkan duniapun belajar pada bangsa Indonesia.


Wawancara oleh:

Wilibrodus Marianus (Youth Coordinator, Ashoka Indonesia)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s