NUROKHIM: MELAYANI YANG TAK TERLAYANI

nurokhim-indonesia.jpg
Sumber: www.ashoka.org/en/fellow/nurokhim-nurokhim

“Pendidikan itu harus ada keberpihakan dan keberagaman, tidak bisa seragam. Ada kelompok masyarakat, misalnya kaum marginal yang harus lewat pendekatan informal, sesuai dengan kondisi psikologis mereka. Anak cacat, anak yang tersandung masalah hukum, anak terlantar dan miskin, anak tak punya identitas belum semuanya terakomodir. Negara belum menjangkau semuanya”, ungkap Nurokhim, pendiri Sekolah Masjid Terminal (Master) di Depok, Jawa Barat.

Sejak tahun 2000, Nurokhim mendirikan Sekolah Master Indonesia sebagai sandaran bagi kaum dhuafa dan anak jalanan untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Awalnya, Nurokhim menggelar kegiatan belajar di Masjid Terminal Depok, yang menjadi cikal bakal nama sekolah ini. Kini, Sekolah Master berdiri di lahan seluas 6000 meter persegi dari jenjang TK sampai SMA. Ada sekitar 3000 siswa saat ini. Mereka adalah anak jalanan yang kerap berkeliaran di terminal. Semuanya bersekolah gratis tanpa biaya.

“Di sini selain sekolah, juga jadi rumah, tempat orang mencari suaka perlindungan, semacam negara dalam negara. Ada anak-anak sampai yang punya anak pun masih sekolah. Mereka sekolah di malam hari, walaupun usia mereka seharusnya sudah di perguruan tinggi. Saya bikinkan asrama. Mereka cuma anak tukang bangunan, sopir, kenek, tukang ojek, pedangan asongan dan lain-lain. Bicara anak-anak pasti bicara hak sipil, pengakuan identitas. Anak jalanan ini seperti orang asing dalam negerinya sendiri. Sementara di luar negeri, kucing, anjing ada barcodenya, di sini anak-anak tidak ada identitas, tak jelas asal-usulnya. Kita advokasi, pendampingan hak-hak sipil. Di sini harusnya ada perpanjangan tangan dinas sosial, dinas pendidikan, dinas kependudukan, sehingga anak-anak ini terselamatkan dari jurang kehancuran”, tutur Nurokhim.

Hampir dua dekade berdiri. Sekolah Master tetap bertahan menyelenggarakan pendidikan gratis berbasis kerelawanan. Nurokhim menerima siapa saja yang bersedia membantu sebagai relawan, membagi ilmu pada anak-anak ataupun materi untuk perkembangan sekolah. Tak hanya mengajar, para relawan juga membantu memfasilitasi anak-anak untuk mengembangkan bakat dan minat mereka pada beragam bidang seperti komputer, otomotif, bahasa, elektro, musik, perbengkelan, klinik dan lain-lain.

Master ini adalah rumah kedua bagi anak-anak, jadi oase, karena secara fitrah mereka butuh perhatian, kasih sayang. Di sini semua pengajar adalah relawan yang menjadi pendamping, sahabat senasib seperjuangan yang memotivasi mereka supaya bisa belajar dengan baik, punya impian, tumbuh kepercayaan diri bahwa dengan bergabung di Master mereka punya jendela masa depan yang lebih cerah. Mereka punya visi, punya gambaran diri untuk masa depan. Kami hanya bertugas mendampingi, fasilitasi sesuai bakat mereka. Jadi banyak kalangan datang ke sini, mereka bisa bantu apa saja, dari berbagai profesi hadir ke sini. Ada juga mahasiswa dari UI dan kampus lain di Jakarta.”, ungkap Nurokhim.

Selain belajar pendidikan formal, Nurokhim juga melibatkan anak-anak Master dalam berbagai aksi keagamaan dan kegiatan sosial melalui experiential learning. Tujuannya untuk menumbuhkan empati dan kepedulian. “Setiap murid dilibatkan bahwa satu saat mereka yang akan memiliki sekolah ini, menjadi relawan di sini.  Tak hanya teori, tapi aksi nyata. Kalau ada yang sakit, patungan uang untuk berobat, bekerja gotong royong bersihkan sampah, bersihkan rumah ibadah di lingkungan lain, banyak aksi sosial yang melibatkan mereka. Kalau mau buat program, kita bikin angket, kumpulin ide mereka,  baru dipilih ide yang mendapat suara terbanyak.”

Salah satu ide yang berhasil dirintis anak-anak Master adalah pembuatan bank sampah di sekolah. Mereka bekerja sama mengumpulkan sampah dari rumah-rumah warga, belajar mendaur ulang, membuat karya kerajinan tangan atau handicraft, mereka mencari petunjuknya langsung dari internet. Karya mereka kemudian dijual, hasilnya ditabung untuk membeli alat-alat kebersihan untuk disumbangkan kembali ke sekolah.

P_20150921_164422
Sumber: http://adlienerz.com

Nurokhim mengakui upayanya merintis Sekolah Master bukan tanpa resiko. Lahan sekolah yang dibangunnya sempat menjadi rebutan karena dinilai strategis untuk menjadi pusat bisnis dan komersial di kawasan Depok.

“Kami melayani yang tidak terlayani dan menjangkau yang tidak terjangkau. Ini butuh mental yang tangguh karena harus konsisten, harus siap dengan segala resiko dan tantangan. Misalnya sekolah ini pernah mau digusur, ini khan kawasan prostitusi, perjudian, orang-orang yang menjadikan anak-anaknya sebagai komoditi, bandar-bandarnya menyerang saya, karena dianggap kehadiran Master menyingkirkan keberadaan mereka. Master dianggap jadi beban. Master ini dianggap surganya masyarakat marginal. Depok ini penyangganya ibukota, ada gelombang urbanisasi, orang-orang yang tidak punya skill, datang merantau, mengadu nasib, sampai di kota terlunta-lunta, akhirnya anaknya jadi korban. Sehingga itu membebani pemerintah daerah. Ada pengembang mau jadikan ini kawasan bisnis, karena sangat strategis, orang berlomba-lomba dapatkan lokasi ini, sehingga terjadi benturan. Karena Master sudah jadi milik semua orang, semua orang tergerak, ada BEM, aktivis pendidikan, mereka melayangkan surat ke pemerintah Depok, sehingga ini bukan lagi perjuangan Master sendiri, tapi ada sokongan dari banyak pihak. Akhirnya diambil solusi, dari 8000 meter persegi diambil 2000 untuk pengembang. 6000 meter persegi jadi milik Master”, kenang pria kelahiran 46 tahun lalu ini.


Jika ditelusuri ke belakang, semangat Nurokhim menolong anak-anak tanpa identitas berangkat dari pengalaman masa lalunya. Dahulu Nurokhim juga pernah hidup di jalanan.  Ia mengaku dibesarkan di lingkungan keras sehingga tumbuh menjadi anak bandel. Walau hidup di jalanan, Nurokhim sebenarnya berasal dari keluarga berada. Ayahnya seorang pedagang grosir level Asia Tenggara. Namun hubungan kedua orang tuanya tidak harmonis. Ayah dan ibunya berpisah ketika Nurokhim masih usia TK. Perpisahan orang tua meninggalkan luka batin yang dalam bagi Nurokhim.

“Saya merasa kehilangan kasih sayang, saya mengiginkan keluarga yang harmonis. Akhirnya saya ikut kakek. Kakek menyekolahkan saya. Waktu saya di sekolah saya dianggap orang aneh, saya sangat sensitif, saya menolak kekerasan di lingkungan pendidikan. Saya tidak bisa diam, kalau ada apa-apa, kekerasan di sekolah saya protes, sehingga saya dikeluarkan. Masa sekolah saya sejak SD sampai SMA sangat terganggu. Untuk dapat ijazah SMP dan SMA saya harus berganti puluhan sekolah. Masalah tak hanya di sekolah. Di rumah, saudara-saudara lain cemburu karena kakek sangat memperhatikan saya. Akibatnya saya keluar rumah, saya hidup di jalanan, di terminal”, tutur Nurokhim.

Di luar rumah Nurokhim bergaul dengan para gelandangan, mengalami langsung kerasnya hidup sebagai anak jalanan, memahami problem mereka, mengerti cara mereka menyalurkan emosi dan “hukum rimba” yang berlaku di jalanan.  “Ketika saya bergaul dengan anak-anak jalanan, saya mengerti, problem kami sama, tapi mereka berasal dari keluarga miskin. Anak-anak ini korban keluarga yang tidak memenuhi kebutuhan dasar, sandang, pangan, papan. Yang jadi bahaya mereka dipaksa, disuruh jadi pelacur, dijual ke orang-orang gemar seks bebas, anak-anak yang rentan ini sangat murah dijual, karena gak punya pilihan. Kalau udah hamil, datang ke saya. Kita dikasih umur, kelebihan, rejeki, masih banyak orang bingung dimana mau tidur, makan apa hari ini, sehingga dia harus nodong orang supaya bisa makan, disitulah kesenjangan. Orang yang punya uang banyak bisa milih sekolah dimana, di sini mereka tidak bisa milih”, kenang Nurokhim.

Meski bertahun-tahun hidup di jalanan, Nurokhim tetap berusaha menimba pembelajaran hidup dari berbagai rupa manusia yang ditemuinya. Ia belajar pengalaman nyata dari sekolah kehidupan. Nurokhim mulai berbisnis sejak usia SMP, bakat alami yang ia dapat dari orang tuanya. Nurokhim mengaku jaringan pertemanan yang luas memberinya perspektif yang kaya, meskipun ia tidak sekolah tinggi.

“Saya belajar sabar dari Ibu, bisnis dari Ayah, belajar berani dari kakek. Kakek saya dulu seorang pejuang. Keluarga saya yang seluruh hidupnya untuk masyarakat dan umat. Walau sekolah formal saya terganggu, saya terus belajar. Saya membaca kisah hidup tokoh-tokoh agama, Rasullulah, orang-orang yang dipilih Tuhan, tokoh-tokoh kemanusiaan seperti Mahatma Gandhi dan Bunda Teresa, orang-orang hebat yang hidupnya untuk orang lain, tidak pernah miskin, tidak kaya tapi cukup. Tuhan memilih orang-orang tertentu untuk menjaga kelestarian bumi, untuk mendamaikan konflik, jadi perekat, pembangun masa depan, jadi agen perubahan, jadi teladan di masyarakat. Saya aktif di berbagai organisasi, saya mulai usia remaja sampai SMP, SMA saya aktif di berbagai organisasi, sehingga saya punya jaringan yang luas, dan saya terus menjaga hubungan pertemanan dengan mereka. Saya menggerakan teman-teman, kalau ada masalah kami bantu, sehingga mereka terus mengingat mereka.  Saya ikut di forum PKBM, pemuda pelopor se-Indonesia, organisasi petani, peternakan, pendidikan, apa saja saya ikut. Sampai FKUB (Forum Komunikasi antar Umat Beragama), saya ikut. Kami melihat dari sisi humanis, punya kepedulian yang sama, ada frekuensi yang sama. Karena saya bergaul dari lintas model orang, kaya sampai miskin, semua level, dari yang taat ibadah sampai yang bandel, saya bisa bedain, orang yang hidupnya tertata, punya konsep, sampai yang kayak mayat”, tutur Nurokhim.

Sekolah-Master-4-copy
Sumber: depoktren.com

Suatu saat di akhir tahun 90an, Nurokhim diundang menghadiri acara reuni di  sebuah kampung yang pernah digusur. Lokasinya di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Acara itu mempertemukan Nurokhim dengan kawan-kawan masa kecilnya. Mereka saling bertukar cerita tentang perubahan hidup yang telah terjadi. Nurokhim menyaksikan banyak warga yang hidupnya tak jauh lebih baik, lantaran tidak bersekolah. Pengalaman ini sungguh membekas, sehingga Nurokhim bertekad membantu orang-orang miskin agar memiliki pendidikan yang baik. “Ada satu momen ketika ada warga bikin hajatan, orang2 diundang, ada reuni warga, semua saling bercerita kehidupan masa sekarang, ada yang udah lebih baik, ada yang miris, saya ambil kesimpulan, pendidikan itu mengubah pola pikir, secara spiritual, intelektual, finansial, pada saat tertentu membantu dia menemukan jalannya, meningkatkan derajat seseorang. Saya bertekad satu saat saya bisa mendirikan sekolah untuk orang-orang seperti saya ini”, ungkap Nurokhim.

Selepas reuni warga itu, Nurokhim tidak langsung mewujudkan cita-cita mulianya. Ia masih sibuk merintis bisnisnya. Nurokhim memiliki sejumlah kios yang ia bangun di pasar dekat Terminal Depok. Kios-kios ini dikontrak sejumlah pedagang kecil. Penghasilan mereka tidak cukup untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka. Setiap bulan Nurokhim menemui mereka untuk menagih uang sewa kios, hingga suatu ketika ia merasa sangat terpukul karena tidak pernah berempati pada kondisi mereka. “Satu saat waktu hujan, saya merenung di sebuah kios yang dikontrak orang, ada anak-anak jalanan sedang tidur. Saya lihat anak-anak ini sama dengan kawan-kawan saya dulu di jalanan. Saya dulu masih bisa sekolah, tapi anak-anak ini tidak. Saya pikir anak-anak ini kalau tidak diselamatkan mereka akan jadi kriminal, bandar narkoba. Saya merasa terdorong untuk peduli pada orang-orang ini. Biasanya saya hanya datang ambil uang tanpa peduli anak-anak mereka. Berhari-hari saya gelisah, tidak bisa tidur. Saya harus bisa bantu mereka sebisa saya. Saya merasa bahagia kalau saya bisa berbagi. Kemudian saya datang lagi, saya ajak ngobrol, ajak mereka makan. Ketika saya beri makan, mereka merasa bahagia banget, sebab mereka jarang mendapat perhatian seperti itu. Setelah itu, dimana-mana ketemu saya mereka sapa, mereka merindukan sosok yang bisa mendampingi mereka. Saya merasa itu saja tidak cukup. Akhirnya saya berusaha kumpulkan uang, kumpulkan anak-anak ini dan mengurus mereka. Saya kembangkan pendekatan-pendekatan seperti itu. Seperti keluarga sendiri, mereka butuh yang bisa mengayomi, melindungi, menjadi teladan, mengarahkan jadi lebih baik. Lewat pendekatan itu akhirnya ada ada ikatan. Kehadiran saya dinanti, kepergian membuat mereka sedih. Lama-lama terbangun cara berpikir mereka, ternyata asyik ya kalau belajar, kalau berilmu.  Akhirnya saya mulai memberi pendidikan informal untuk mereka, pertama-tama dari masjid, kemudian ada rumah-rumah warga saya beli sebagai tempat belajar”, kenang Nurokhim.

Awal mula Nurokhim mendirikan Sekolah Master dengan tujuan sederhana sebagai tempat kumpul atau rumah singgah. Nurokhim menyebutnya sebagai Unit Gawat Darurat (UGD) untuk berbagai tipe anak jalanan. “Fungsinya sebagai rumah kedua jadi bisa berikan ketenangan kenyamanan jikalau anak tidak mendapatkan itu di rumah, ada sosok-soaok yang bisa menjadi teladan, peran orang tua, sehingga siswa menemukan pengganti. Tanggung jawab utama memang dari rumah, tapi sebagai masyarakat juga harus peduli dan negara hadir, proteksi mencegah kehancuran generasi dari jurang kemiskinan”, tegas Nurokhim.

Karena mendidik anak-anak tanpa identitas, Nurokhim menyadari adanya potensi konflik yang besar di antara mereka terutama kasus perundungan atau bullying. Master menerapkan konsep tutor sebaya sebagai solusinya serta pentingnya membekali anak didik dengan pendidikan spiritual yang baik. “Ada konteks belajar dan mengajar, tutor sebaya, kakak kelas mengajar mendampingi adik-adiknya. Penekanan ruhnya pendidikan itu kecerdasan spiritual. Orang yang kecerdasan dalam religinya bagus, dia akan tumbuh punya kecerdasan emosi, sosial, intelektualnya tinggi. Lewat tutor sebaya mereka selalu menjaga sikap untuk membawa kebaikan. Konteks keimanan: ada malaikat yang mencatat kebaikan, kejahatan kita. Itulah kecerdasan spiritual, kalau keyakinan ini sudah tertanam, dia tidak akan semena-mena karena itu perbuatan tercela. Kalau dia berprestasi dia bersyukur. Itulah bedanya pembangunan berbasis material dan spiritual. Ada orang yang disiplin karena takut dihukum, takut aturan. Tapi bukan karena kesadaran bahwa berbuat salah itu berdosa. Saya tekankan pada mereka bahwa orang berilmu itu seperti batu mulia. Kalau orang yang berpendidikan kita dia dihargai mahal, kalau kamu seperti batu kali, mau sebanyak apapun kamu dihargai rendah. Kamu harus rajin belajar, harus jadi orang hebat, supaya kamu dihargai mulia.”

17 tahun merintis Sekolah Master, kini Nurokhim menyaksikan banyak perubahan positif telah dicapai. Banyak anak didiknya sudah mampu melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi bahkan ada yang dikirim belajar ke luar negeri seperti Jepang. Komitmen dan kerja keras Nurokhim mendidik anak jalanan juga membuatnya diganjari banyak apresiasi. Salah satunya ia terpilih sebagai Ashoka Fellow pada tahun 2014. Tak hanya itu, model pendidikan Sekolah Master juga telah diduplikasi di banyak daerah. “Saya harus bisa cloning diri saya pada orang lain, saya tularkan virus positif di wilayah lain. Master jadi model untuk agen perubahan, anak-anak master bisa jadi teladan, pembawa perubaha. Master jadi inspirasi untuk daerah lain bisa menumbuhkan banyak aksi nyata untuk perubahan. Kita sudah punya di 20 daerah, di Jakarta, Bandung, Jogja, kita punya rumah singgah, panti asuhan, pesantren, desa binaan dengan peternakan dan pertanian. Ini bisa direplikasi dimanapun berada, minimal ada inisiator, konseptor, eksekutor, operator. Setiap kita siapapun dia, punya potensi, diberikan anugerah, tenaga, pikiran, ilmu bukan hanya memikirkan dirinya dan keluarga. Tapi juga pikirkan orang lain di sekitar kita, masyarakat dan bangsa, ketika kita melakukan kebaikan pada dasarnya kita berbuat baik untuk diri kita. Bagian dari kesuksesan itu ketika kita bisa membawa manfaat untuk orang lain.”

Ke depan Nurokhim berharap ada sinergi antara masyarakat dan negara dalam penguatan keluarga-keluarga di Indonesia. Sebab pendidikan yang pertama dan utama berawal dari keluarga khususnya Ibu. “Hulu persoalan hari ini itu dari keluarga. Master hanya hilirnya. Negara harus menjamin penguatan keluarga, begitu fundamentalnya peran Ibu. Anak-anak khan nanti jadi pahlawan keluarga. Negara harus betul-betul memperhatikan peran Ibu, kesehatan Ibu. Sekolah hanya suplemen, yang pokok di rumah. Fundamen membangun bangsa harus dimulai dari keluarga”, pungkas Nurokhim mengakhiri ceritanya pada Ashoka Indonesia.


Wawancara dan Cerita oleh:

WILIBRODUS MARIANUS (Youth Coordinator – Ashoka Indonesia)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s