Ara Kusuma: Yang Muda Yang Membangun Desa

arakusuma
dok. Ara Kusuma

Pernahkah Anda membayangkan seorang anak kecil berusia 10 tahun mampu menggerakkan masyarakat di satu wilayah untuk membuat perubahan sosial? Bahkan orang-orang yang menerima manfaat dari perubahan ini adalah mereka yang usianya jauh lebih tua. Tak perlu berpikir jauh-jauh, itu tidak terjadi di belahan dunia atau negara lain. Itu terjadi di Indonesia.

Salam kenal dari seorang gadis cerdas, changemaker muda asal Salatiga, Jawa Tengah, namanya Kusuma Dyah Sekararum, biasa disapa Ara Kusuma. Di saat anak-anak seusianya lebih banyak menghabiskan waktu mereka untuk bermain, sejak satu dekade lalu, Ara telah berpikir dan bertindak jauh melampaui usia fisiknya. Ia mengembangkan program desa berbasis home industry dengan memberdayakan potensi desa setempat.

Pada usia 10 tahun, Ara berkolaborasi dengan warga Desa Sukorejo, sebuah sentra peternakan sapi perah di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, mengembangkan konsep incorporated village dengan memanfaatkan seluruh potensi sapi untuk meningkatkan perekonomian warganya. Inisiatif bernama Moo’s Project ini berfokus mengolah semua potensi ekonomi yang ada pada sapi mulai dari susu sapi, daging sapi, kotoran sapi, urine sapi, pengolahan biogas, serta agrowisata dan penghijauan. Inisiatif ini membuat Ara dikenal luas dan mengantarkannya menjadi salah satu anggota termuda dalam jaringan Young Changemaker yang digagas Ashoka, sebuah organisasi kewirausahaan sosial global. Ashoka memilih Ara sebagai Young Changemaker pada tahun 2008, ketika usianya belum genap 11 tahun.


BERAWAL KARENA SUKA SAPI

Moo’s Project yang digagas Ara Kusuma bermula dari kesukaannya pada susu sapi sejak kecil. Ia mengoleksi segala pernak-pernik tentang sapi, hingga keinginan untuk memiliki sapi sungguhan muncul saat ia berusia 10 tahun. “Saya ingin merasakan pengalaman memelihara sapi hingga memerah susunya. Kemudian saya jalan-jalan ke sebuah peternakan di Solo. Di peternakan milik perseorangan itu ada 1500-an ekor sapi yang dikelola dengan sangat baik. Pakannya dibuat sendiri, kandangnya tidak bau dan tidak dirubung lalat. Padahal, sapi-sapinya tidur di atas tumpukan kotorannya sendiri. Sumber daya yang ada dimanfaatkan dan diolah dengan baik, mulai dari susu hingga kotorannya. Pendek kata, peternakan itu menerapkan sebuah integrated farming dalam skala kecil. Keren banget!”, kenang gadis kelahiran 17 November 2007 ini.

Pada kesempatan lain, Ara berkunjung ke desa-desa sentra susu sapi di Boyolali. Di sana, ia menemukan fakta betapa banyaknya populasi sapi dalam satu desa, salah satunya Desa Sukorejo. Satu peternak bisa memiliki 3 hingga 10 ekor sapi, jadi jika ada 500 peternak di desa tersebut, terdapat sekitar 1500 hingga 5000 ekor sapi dalam satu desa. Namun, masalahnya kandang sapi di Sukorejo bau dan banyak lalat. Padahal susu yang dihasilkan di desa itu kemudian diolah menjadi susu yang diminum oleh anak-anak di Indonesia. Selain itu, hasil tani dan ternaknya dijual dalam bentuk mentah, tidak diolah. Pemakaian pupuk kandangnya juga boros, karena tidak diolah, hanya dibiarkan membusuk dengan sendirinya. Keadaannya sangat kontras dengan peternakan yang Ara lihat di Solo, padahal lokasinya tidak terlalu berjauhan.

“Melihat hal itu saya berangan, bagaimana jika desa di Boyolali itu dikelola dengan baik secara terintegrasi seperti peternakan di Solo? Dimana para warganya bisa bikin pakan sendiri, mengolah susu dengan baik, menjualnya dengan nilai lebih tinggi, memiliki kandang sehat untuk sapi dan penduduknya. Pendek kata, desa itu juga bisa menjadi sebuah integrated farming”, terang Ara.

Gagasan ini kemudian ia tuangkan menjadi sebuah inisiatif incorporated village berbasis home industry, bernama Moo’s Project. Tujuannya tak lain, untuk meningkatkan kesejahteraan para peternak sapi. “Perusahaan desa ini dimiliki oleh seluruh warganya, sehingga keuntungannya pun untuk bersama, tidak hanya sejahtera sendiri-sendiri. Mulya sesarengan atau sejahtera bersama, itu moto kami”, jelas Ara.


OLAH 6 “EMAS” PADA SAPI

Melalui Moo’s Project, Ara menggerakkan warga desa untuk mengelola 6 “emas” yang dimiliki sapi sehingga memiliki nilai tambah. Emas yang pertama yakni emas putih atau susu sapi. Dari bahan utama susu sapi, Ara dan warga Sukorejo mengolahnya menjadi  pudding, wingko susu, es krim, dan produk lainnya, agar nilai susu tersebut menjadi berlipat. Jadi peternak tidak hanya sekadar menjual produk infarm (susu), namun sudah dalam bentuk olahan (outfarm).

Emas kedua yaitu emas merah atau daging sapi. “Kami belum mengoptimalkan emas ini karena sebagian besar sapi di Desa Sukorejo merupakan sapi perah”, ungkap Ara.

Emas ketiga adalah emas hitam, yaitu kotoran sapi padat dan keempat  adalah emas kuning, yaitu kotoran sapi basah. Keduanya diolah secara terpisah, yang padat menjadi kompos sedangkan yang basah menjadi pupuk cair.

Emas kelima, emas hijau, yaitu penghijauan lingkungan sekitar dan pengembangan agrowisata. Desa yang hijau dan lestari menjadi daya tarik bagi orang perkotaan. Ara dan warga desa mendirikan “Moo’s Camp” sebagai wahana wisata keluarga serta tempat pelatihan maupun pertemuan agar warga desa mendapat pemasukan dari kunjungan para tamu.

Emas keenam adalah emas biru, yaitu pengolahan kotoran sapi menjadi biogas. “Gagasan ini sudah ada dalam konsep, namun kami belum sampai pada tahap ini”, jelas Ara.

mooscamp

dok. Ara Kusuma


PENTINGNYA DUKUNGAN KELUARGA

Selama menjalankan Moo’s Project, Ara melibatkan keluarganya sebagai tim inti. “Mereka mendukung saya mulai dari proses awal brainstorming ide hingga ke eksekusi, terutama di bidang fasilitasi transportasi, karena usia saya yang masih belia membutuhkan pendampingan ketika harus bepergian kesana kemari.”

Ara bersyukur tumbuh dalam keluarga yang sangat suportif dan berpikiran terbuka. Kedua orang tuanya selalu bersedia mendengar dan sangat mengapresiasi semua ide maupun pendapat Ara dan saudara-saudarinya.  Mereka sungguh-sungguh menanggapi setiap ide yang diutarakan Ara, dan membantunya mengelaborasi menjadi langkah konkrit yang realistis, rencana aksi yang bisa dicapai perlahan-lahan.

Untuk merealisasikan Moo’s Project, semua anggota keluarga Ara mengambil peran masing-masing. “Bapak menjadi perwakilan Moo’s Project untuk belajar ke peternakan di Solo tersebut selama satu minggu, untuk kemudian dibagi pada kelompok peternak di Boyolali. Ibu berperan dalam pengelolaan susu sapi bersama para istri peternak. Kakak dan adik saya bergerak di kegiatan edukasi anak-anak di desa tersebut. Dan saya berperan sebagai integrator. Selain mengintegrasikan kinerja tim, saya juga mengintegrasikan para warga, pemilik sapi, dengan para ahli, pelanggan dan pemerintah desa”, ungkap putri kedua dari Septi Peni, penggagas metode belajar Jarimatika.

Ara mendapat banyak hal positif sebagai pembelajaran penting selama menjalankan Moo’s Project. Ia belajar memahami cara berkomunikasi dengan orang pedesaan, kesulitan mereka, tantangan yang ada di desa, sekaligus potensi-potensi besar yang ada di desa yang sebenarnya sangat bisa dan mungkin untuk diolah. “Dengan sentuhan teknologi, seni dan manajemen yang baik, desa itu akan menjadi tempat yang menarik untuk berkarya, membangun bisnis yang bisa mulya sesarengan (sejahtera bersama-sama)”, jelas Ara.

IMG_4245


TUMBUH SEBAGAI SOCIAL ENTREPRENEUR

Melalui Moo’s Project, Ara juga belajar pentingnya pemasaran yang baik dalam menjaga keberlanjutan sebuah usaha. Pada tahun 2012 saat usianya belum genap 15 tahun, Ara melanjutkan kuliah di Singapura mengambil jurusan marketing dan management.  Saat usianya 19 tahun Ara sudah menjadi sarjana. Ara dan kakak-adiknya menempuh tiap jenjang pendidikan yang terbilang singkat karena mereka tidak bersekolah formal. Mereka menjalani homeschooling sejak kecil oleh sang Ibu yang sekaligus adalah guru mereka.

Pengalaman sebagai pelopor atau inisiator saat merintis Moo’s Project membekali Ara kemampuan untuk membuat banyak perubahan. Ia tumbuh sebagai social entrepreneur. “Ketika kembali ke Indonesia, saya mendirikan sebuah project travelearning bernama URTravelearner untuk merespon kebutuhan akan pembelajaran berkualitas bagi anak muda. Project ini bertujuan mengembangkan potensi anak muda, karena merekalah pemimpin bangsa di masa depan, dimana perubahan positif dimulai”, tegas Ara.

URTravelearner (www.urtravelearner.com)  memberi kesempatan anak muda untuk belajar dengan cara traveling. Anak-anak muda difasilitasi untuk menjelajah dunia dan belajar secara langsung dari sumber-sumber utama. “Kami membawa anak-anak muda menemui para inspirator lokal yang telah mengerjakan banyak hal baik bagi masyarakat. Kami menghubungkan mereka dengan harapan melalui pengalaman jalan-jalan ini, akan membantu para Travelearners untuk melahirkan gagasan dan inovasi”, jelas Ara.

Ara mengaku inspirasi program belajar dengan cara traveling ini bersumber dari pengalaman pribadi. “Saat homeschooling, di kelas 2 sampai kelas 4, saya belajar melalui jalan-jalan. Pengalaman itu sangat menyenangkan sebab kita dapat bertemu banyak orang dari berbagai latar belakang. Pembelajaran terbangun lewat diskusi dengan guru, dari pengalaman langsung dan interaksi sosial yang terjadi selama melakukan perjalanan. Lebih jauh, pengalaman masa kecil itu membantu saya memperluas jaringan dan memungkinkan kesempatan kolaborasi untuk pengembangan project yang saya rintis. Saya ingin anak-anak yang lain juga memiliki pengalaman yang sama atau bahkan lebih baik dari yang pernah saya alami. Ini bukan tentang kemana Anda pergi, ini tentang siapa yang Anda temui dan apa yang bisa Anda pelajari dari mereka, serta apa yang bisa Anda kontribusikan untuk mereka.”

Tak hanya merintis project URTravelarner, Ara juga membantu mengembangkan usaha sosial berbasis bambu yang dinamai Spedagi (www.spedagi.com, www.spedagi.org). Usaha ini juga dijalankan dengan warga desa sebagai mitra utama. “Alasannya karena ada banyak bambu di desa. Namun karena jumlah yang berlimpah, warga hanya menggunakannya begitu saja. Mereka tidak berpikir bambu adalah aset yang sangat bernilai. Banyak hutan bambu bahkan dijadikan tempat pembuangan sampah. Melalui Spedagi kami mau membuktikan bahwa dengan teknologi yang sederhana, desain yang baik serta sentuhan seni, kita dapat membuat perubahan fungsi dari bambu menjadi material berharga.”

Spedagi adalah sebuah gerakan revitalisasi desa dimana sepeda dari bambu menjadi ikonnya. Spedagi sekadar manifestasi dari produk berbasis bahan lokal, tetapi juga titik awal dari gerakan pemberdayaan desa sebagai sebuah komunitas yang mandiri dan berkelanjutan. “Sekarang saya menangani bidang yang berbeda dari project pertama saya. Tetapi saya menyadari bahwa yang sekarang saya kerjakan, secara logika dan proses berpikir, tidak jauh berbeda dengan apa yang saya kerjakan sebelumnya. Hanya berbeda bidang yang digarap. Pergeseran daerah tempat kita berkarya memungkinkan terjadinya sebuah perubahan, sebab karakteristik di tiap daerah berbeda satu dengan yang lain. Entah itu project tentang sapi, traveling, edukasi, atau bambu, prinsipnya adalah: menjawab tantangan, menggarap potensi lokal”, tegas Ara.

Selama menjalankan banyak karya sosial, Ara memegang satu prinsip penting yakni perubahan hanya bisa terwujud melalui kolaborasi atau kerja sama. “Tidak penting bidangnya apa, tetapi pengalaman kita dalam mengasah keterampilan berkomunikasi, mendorong orang lain, memahami kondisi sekitar, mencari solusi bersama dan sebuah sikap hidup untuk mulya sesarengan atau sejahtera bersama-sama, tidak egois, itulah yang utama. Karena dunia ini membutuhkan kolaborasi, bukan kompetisi.”, pungkas Ara mengakhiri ceritanya untuk Ashoka Indonesia.


Wawancara dan Cerita oleh:

WILIBRODUS MARIANUS (Youth Coordinator, Ashoka Indonesia)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s