Butet Manurung: Advokat Masyarakat Adat Indonesia

fellow-11717-3863_id_headshot.jpg“Aku suka petualangan. Waktu kecil aku pernah mengkhayal jadi semut, bisa ke mana-mana, keliling dunia. Niat petualangan dan rasa penasaranku gede banget. Aku suka nonton film kayak Indiana Jones, God Must Be Crazy, bahkan setelah tahu ada konsep reinkarnasi, aku merasa jangan-jangan dulunya aku Tarzan atau tiger. Aku merasa happy banget kalau ada di tengah hutan. Rasa itu muncul sejak kelas 3 SD.”

 

Namanya Saur Marlina Manurung, “Indiana Jones” dari Indonesia. Mayoritas publik nusantara bahkan mancanegara lebih mengenalnya sebagai Butet Manurung. Generasi 2000-an barangkali lebih populer mengingat namanya setelah kemunculan film Sokola Rimba, akhir 2013 lalu. Ya, film itu bercerita tentang kisah hidup Butet, ibu guru di hutan belantara.

Suatu sore di pertengahan Desember 2016, Ashoka Indonesia mengontaknya untuk wawancara story of change, cerita para Ashoka fellow dan young changemaker. Butet bergabung dalam Fellowship Ashoka pada tahun 2005. Butet ternyata sedang berada di Australia. Wawancara akhirnya dilakukan via skype. Di tengah kesibukannya, Butet menjawab satu per satu pertanyaan dengan penuh antusiasme, nada bicara yang renyah dan sangat akrab. Ada banyak kisah masa kecil Butet yang sangat layak dibagi, khususnya untuk anak muda di Indonesia.

“Jadi diri sendiri! Temukan kesenanganmu, temukan mimpimu, temukan kekuatanmu, temukan nilai dirimu. Tidak ada satupun profesi yang lebih mulia dari profesi yang lain. Semuanya sama, asal kau suka. Jadilah manusia terbaik seperti apa yang sudah digariskan Tuhan untuk hidupmu.”, pesan Butet untuk para pemuda.

the-jungle-school-book.jpg
Sumber: thejungleschool.wordpress.com

SETIAP KELEBIHAN HARUS DIALIRKAN

Butet lahir dari keluarga berada, orang Batak yang hijrah ke Jakarta. Ayahnya seorang ekonom, yang cukup memproteksinya sejak kecil. Ia tidak banyak mendapat kesempatan bermain di luar rumah, namun karena gemar membaca, Butet jatuh cinta pada dunia petualangan lewat buku. Kesukaan membaca juga menumbuhkan potensi Butet sebagai seorang inisiator atau pelopor.

“Saya ingat, waktu kecil saya suka baca buku cerita. Lalu terbersit pertanyaan di benak saya: apakah teman-teman di luar sana juga suka baca buku gak ya? Kalau mereka ada buku, bisa tukar-tukaran gak ya? Berawal dari pertanyaan polos ini, saya bikin perpustakaan di rumah. Saat itu kira-kira saya kelas 2 SD. Saya undang teman-teman untuk membaca. Saya pungut bayaran 5 – 10 perak perorang, tapi sukarela, ada yang bayar, ada yang gak, ada juga yang bawa buku tapi gak balik, setelah beberapa tahun habis koleksinya.”, ujar Butet ketika pertama kali ia belajar mengorganisir orang lain untuk sesuatu yang positif.

Dianugerahi kecerdasan yang baik, unggul dalam banyak mata pelajaran, matematika hingga olahraga, membuat Butet tergerak membantu teman-temannya yang ketinggalan. Dari sinilah bakatnya sebagai guru, pelan-pelan terasah. “Teman-teman biasa meminta aku menjadi guru, mungkin karena mereka gak mau kelasnya bosan. Aku ajak mereka main kelas-kelasan, main guru-guruan. Mereka menjadi siswaku. Saat jadi tutor sebaya, aku merancang banyak model permainan, misalnya main cerdas cermat atau arisan pertanyaan. Biasanya aku pancing mereka, dengan hadiah kue atau permen sebagai stimulus. Itu kulakukan sejak SD sampai SMA. Hingga ketika mengajar murid-muridku di Rimba, aku sadar, pengalaman jadi guru saat kecil itu sangat berharga. Aku jadi punya kreativitas yang kaya untuk mengajar.”

Sebagai seorang pendidik, Butet memegang prinsip bahwa seorang guru yang baik adalah guru yang mampu belajar dari murid-muridnya, juga belajar dari ketidaksempurnaan guru-gurunya dulu. Ia sungguh-sungguh menerapkan itu ketika jadi guru Suku Anak Dalam di belantara Jambi.  Butet mengajar baca-tulis dengan pendekatan antropologis. Butet berguru pada murid-muridnya bahasa dan kearifan Orang Rimba. 


DITAKDIRKAN UNTUK MELAWAN KETIDAKADILAN

Butet menaruh perhatian besar pada isu-isu ketidakadilan sejak belia. Rasa belas kasih yang dalam membentuk karakternya sebagai penolong. Dengan fisik prima sebagai langganan juara lari di Jakarta, Butet terbiasa melawan para pem-bully di sekolahnya, menjadi pembela teman-teman masa kecilnya yang tertindas. Ia mengaku punya hati yang rapuh, dan mata yang cepat berair tatkala melihat ketidakadilan. Pengalaman-pengalaman ini memekarkan nilai empati yang tertanam dalam jiwanya. “Aku anak Bapak, biasa diproteksi, jadi tidak punya banyak pengalaman mengalami kondisi berkekurangan atau ketidakadilan. Aku cepat jatuh kasihan sama orang. Banyak tukang jualan, atau tukang becak yang ngantarin aku, peminta-minta aku kasih makan di rumah. Kalau naik mobil sama Bapak, lalu lihat gelandangan di jalanan, aku menangis dalam waktu lama.”, kenang Butet.

Butet mengaku belajar secara tak langsung nilai empati dan kepemimpinan dari ayahnya. Sebagai seorang ekonom yang cerdas, ayahnya sangat suka menolong orang, tidak dengan memberi materi secara langsung, tetapi membantu orang lain mengeksplorasi bakat mereka agar mandiri.  Pola asuh yang sama juga diterapkan pada Butet. Meski pergaulannya dibatasi, Butet tetap diarahkan mengembangkan diri sesuai minat bakat.

Namun Butet menilai karakternya tak semata-mata terbentuk karena didikan orang tua. Butet meyakini ada sesuatu yang tak biasa dalam dirinya, passion atau renjana yang membuat Butet justru menggandrungi hal-hal yang jauh berbeda dari asuhan orang tuanya. “Orang suka bilang didikan orang tua dan lingkungan akan mempengaruhi profesi kita. Aku kurang sepakat, karena orang tuaku mendidik yang sebaliknya. Bapakku bilang, kamu hanya bisa melakukan apa maumu setelah tamat SMA. Aku sangat diproteksi, dilarang main di luar rumah. Sering waktu tidur siang aku kabur untuk main, ketahuan sama orangtua terus ditegur, disuruh tidur lagi. Akhirnya aku menabung semua impianku, kutunggu sampai tamat SMA. Aku merasa sepertinya ditakdirkan untuk bertualang dan melawan ketidakadilan. Ketika seminar banyak orang yang bilang, aku suka lho kak ke hutan, tapi orang tuaku melarang. Harusnya orang ikut kata hatinya, karena buktinya aku bisa.”


JADI PETUALANG YANG BERGUNA

Lulus dari sekolah menengah atas, Butet kemudian kuliah di Universitas Padjajaran, Bandung. Dua bidang studi ditempuhnya bersamaan. Ia menjalani kuliah sambil kerja sambilan memberi les piano dan mengajar matematika. Perlahan-lahan ia menabung hasil kerjanya, agar bisa naik gunung, begitulah cita-cita kecil Butet yang sangat cinta akan alam. Butet telah menaklukkan banyak gunung, dan tangguh menjelajah berbagai bentang alam seperti Puncak Trikora, gua Wikeda di Wamena, gua Maros, hingga Annapurna Range Himalaya, pernah ia sambangi. “Begitu selesai SMA aku naik gunung. Semua orang bilang, ah paling sekali aja. Ternyata setelah itu aku tergila-gila sama petualangan, tiap bulan aku naik gunung, susur gua atau arung jeram. Pernah ketika naik gunung aku sakit, lalu diseret ke puncak. Itu jadi turning point yang luar biasa, bahwa aku bisa sampai di puncak gunung, aku mendingan mati daripada aku gak sampai ke puncak. Cukup lama, ada beberapa tahun aku mengalami kegilaan hanya sebagai petualang semata.”

Saat kuliah di tahun ketiga, Butet mendaki puncak Jayawijaya. Dalam perjalanan, ia bertemu seorang antropolog bernama Herry Yogaswara, seniornya di Universitas Padjajaran yang bekerja sebagai peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Pertemuan dengan Herry menguatkan pilihan hidup Butet menjadi antropolog yang berjuang untuk memberdayakan masyarakat. “Waktu ketemu Kang Herry, aku sempat bertanya apakah kamu pernah mendaki Puncak Trikora? Aku ketawa karena ternyata dia belum ke sana, padahal sudah lama hidup di Papua. Sampai akhirnya dia membawaku ke sebuah bukit yang menjadi sumber sengketa 2 suku, aku jalan sama dia, melihat langsung dia bicara dalam 2 bahasa lokal, isinya tentang kesepakatan supaya mereka gak berperang lagi. Sampai aku menangis. Aku menangis karena merasa terpukul, telah menghabiskan banyak uang hanya untuk bertualang doang. Aku mau jadi petualang yang berguna. Aku pengen seperti dia, seperti Kang Herry, jadi antropolog yang sebenarnya, yang bermanfaat untuk banyak orang. Itulah pengalaman terpenting yang membantu aku memantapkan pilihan hidupku.”

Kembali dari Papua, Butet masih sibuk bertualang, namun dengan perspektif yang berbeda. Ia mengasah pemahaman akar rumput, belajar dari kehidupan masyarakat yang ditemuinya, dan ketika kembali ke kampus Butet berusaha merefleksikannya, agar dapat menyalurkan petualangan untuk menolong orang lain. Pengalaman ini membuatnya terlena dan nyaris melupakan aktivitas kuliah. Setelah kuliah 7 tahun, dan terancam mendapat surat drop out, akhirnya Butet meraih dua gelar sarjana, antropologi dan sastra Indonesia.  “Aku sempat kerja pada lembaga penelitian di kampusku, lalu suatu hari aku lihat lowongan dari Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, jadi pengajar orang rimba di Jambi. Aku merasa tergerak, dan yakin bahwa inilah pekerjaan yang sesuai panggilanku.” Dari sinilah, Butet memulai tahapan baru yang kemudian mengubah seluruh nasib hidupnya.

chct8vbu0aadttv
Sumber: twitter.com/manurungbutet

IBU GURU DI HUTAN BELANTARA

Sejak tahun 1999 hingga 2003, Butet menyusuri pedalaman rimba, menjadi guru bagi Suku Anak Dalam di Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi. Butet dan murid-muridnya tak punya ruang kelas permanen. Mereka belajar beralas batang pohon yang sudah tumbang atau di atas bebatuan.

Jatuh bangun Butet berusaha mengenalkan aksara dan angka pada Orang Rimba. Tak serta merta kebaikan hatinya diterima. Butet sempat merasakan putus asa karena penolakan dari warga asli. Mereka takut ditipu bahkan menganggap pendidikan menyalahi adat dan budaya. Namun Butet tidak menyerah, ia terus berusaha. Orang Rimba butuh diyakinkan, bukan dipaksa. Butet tinggal bersama mereka, tidur di tempat yang sama, makan apa yang mereka makan. Ia mengamalkan empati yang dalam, mengalami langsung jadi bagian dari Orang Rimba. Butet ikut berpindah-pindah dari satu desa ke desa lain, namun tetap konsisten mengajarkan satu hal yang sama, agar mereka mampu baca dan tulis. Empat tahun lamanya berjuang bersama Orang Rimba, Butet akhirnya merasakan hasilnya. Kemampuan literasi membuat Orang Rimba berdaya. Mereka mampu memahami persoalan hukum terutama tentang pembalakan liar agar mereka tak ditipu lagi, mereka tahu bagaimana cara membela dan mempertahankan tanah milik mereka.

KURIKULUM MASYARAKAT ADAT

Pengalaman bersama Orang Rimba memantapkan langkah Butet untuk berkarya lebih bagi masyarakat adat (indigenous people). Tahun 2003, bersama empat rekannya Butet mendirikan organisasi bernama SOKOLA yang bertujuan memberi kesempatan belajar bagi komunitas adat dan kelompok marjinal di wilayah terpencil di Indonesia.

Selama 14 tahun berdiri, SOKOLA sudah berkiprah di 15 daerah, tersebar dari Sumatera, Sulawesi, NTT hingga Papua. Sebagian sudah mampu beroperasi secara mandiri atau diambil alih LSM dan pemerintah setempat. Masih ada 4 SOKOLA yang sedang berjalan saat ini, yakni di Jambi, Jember, Kajang, dan Papua. “Kita punya target 4 tahun beroperasi di satu daerah. Setidaknya dalam setahun ada 4 atau 5 sokola di berbagai komunitas adat. Bersama komunitas kami menentukan tujuan bersama, memahami masalahnya apa, dan indikator keberhasilannya apa. Target kami sederhana, kalau mereka sudah mampu menyelesaikan masalah sendiri, berarti mereka sudah berhasil. Misalnya kalau di Flores musuhnya bom-bom ikan, mereka sudah bisa bikin aturan sendiri, mencalonkan diri jadi kepala desa, bahkan perempuan sudah berani bersuara di forum desa. Tapi kalau di Jambi masalahnya berganti-ganti, sehingga sudah 17 tahun gak selesai-selesai. Kalau dulu mereka menghadapi masalah literasi, sekarang isu pengelolaan hutan sedang jadi perhatian. Mereka sedang bikin kesepakatan sama pemda, sejauh mana mereka bisa campur tangan di tanah mereka sendiri.”, tegas Butet.

1b34f628-774f-4f5e-90c6-d6431014784e_w640_r1_s_cx0_cy9_cw0.jpg
Relawan SOKOLA sedang mengajar baca-tulis bagi penduduk desa Wailago, Flores, NTT. Sumber: thejungleschool.wordpress.com

Sembari berjuang melalui SOKOLA, Butet masih menyimpan visi besar, agar komunitas adat atau orang asli memiliki kurikulum sendiri yang berbeda dengan kurikulum konvensional. Menurut Butet, masyarakat adat cenderung dipandang dari dua sisi berlawanan, sebuah paradoks. Karena mereka hidup di ekosistem yang rapuh, mereka dianggap sebagai penjaga alam terbaik sekaligus musuh terburuk, sebagai penduduk yang sah dan perambah hutan yang berbahaya, sebagai barometer keragaman ekologi dan sekadar catatan kaki dari konflik ekonomi atau politik. Di Indonesia, paradoks ini meluas ke wilayah moral. Bagi sebagian pihak, masyarakat adat adalah simbol alam yang murni, keragaman budaya, simbol hidup sederhana. Tapi bagi pihak lain, termasuk bagi negara, masyarakat adat mewakili kemiskinan, simbol keterbelakangan, dan hambatan untuk kemajuan. “Sehingga lewat literasi itu bisa menuntun mereka ke mana saja, tapi harus dimulai dari baca tulis, pakai bahasa lokal, aturan-aturan lokal, kebiasaan-kebiasaan lokal. Aku masih  memperjuangkan untuk mengadvokasi pemerintah agar indigenous people punya kurikulum sendiri. Kita harus punya kurikulum khusus untuk masyarakat adat. Ini harus jadi gerakan bersama. Sebab bahaya kalau kurikulum nasional diterapkan pada komunitas adat. Itu akan menumpulkan kekayaan lokal yang berdampak pada ketahanan nasional.”

Selain memperjuangkan hak-hak masyarakat adat, lebih jauh Butet bercita-cita agar kerelawanan atau voluntarisme perlu menjadi budaya orang Indonesia. Sebab bangsa yang tangguh lahir dari masyarakat yang peduli, yang saling menolong tanpa pamrih, berempati besar pada mereka yang miskin, tersingkir, mereka yang tak mampu bersuara melawan ketidakadilan.  “Aku ingin melihat gerakan voluntarisme tumbuh dengan subur di Indonesia. Setiap orang apalagi orang muda harus pernah mengalami menjadi relawan di sepanjang hidupnya. Ini bahkan harus dilakukan sebelum kita menekuni profesi yang kita suka. Ini melatih kita menumbuhkan nilai diri lebih dari penghargaan-penghargaan yang semu, melatih kita untuk bahagia karena sukarela melayani atau memberi. Sebab voluntarisme itu sebenarnya bakat yang ada pada setiap orang. Tiap orang bisa jadi diri sendiri, kalau orang itu bahagia karena telah memberi manfaat atau berbuah.”, pungkas Butet mengakhiri ceritanya untuk Ashoka Indonesia.


Wawancara dan Cerita oleh:

WILIBRODUS MARIANUS – Ashoka Indonesia Youth Coordinator

Kontak: wmarianus@ashoka.org

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s