GAMAL ALBINSAID: DOKTER MUDA BERUPAH SAMPAH

garbage-clinical-insurance-5
Dokumentasi: Gamal Albinsaid

Ketika masih menjadi mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Brawijaya, Gamal Albinsaid mendengar berita pilu tentang seorang anak berusia 3 tahun, yang meninggal di atas tumpukan sampah. Khairunnisa atau Nisa, demikian nama bocah itu, menderita diare. Sang Ayah yang seorang pemulung tidak dapat membawanya berobat ke rumah sakit. Karena kekurangan biaya, Nisa hanya mendapat pengobatan seadanya. Nahas, bocah itu akhirnya meregang nyawa karena tak kuat melawan diare yang dideritanya.

Kisah tragis Khairunnisa memberi kesan mendalam bagi Gamal Albinsaid, dan kelak menjadi inspirasinya untuk peduli membantu kaum miskin yang tidak dapat mengakses pengobatan layak. Pemuda 27 tahun, asal Malang, Jawa Timur ini, kini dikenal luas hingga mancanegara sebagai dokter sampah. Melalui klinik asuransi sampah yang didirikannya, Gamal memberi layanan pengobatan gratis kepada kaum miskin yang hanya membayarnya dengan sampah.

Gagasan cemerlang Gamal membuat mata dunia terharu. Tahun 2012, Gamal terpilih sebagai pemuda pembaharu (Young Changemaker) oleh Ashoka (organisasi kewirausahaan sosial global). Dua tahun berselang, Gamal diganjar penghargaan Sustainable Living Youth Entrepeneurs dari Kerajaan Inggris pada awal 2014. Gamal menjadi juara pertama, menyisihkan 510 peserta dari 90 negara. Ia terbang ke London dan bertemu muka langsung dengan Pangeran Charles.

garbage-clinical-insurance-18
Dokumentasi: Gamal Albinsaid

DILATIH BERJUANG SEJAK KECIL

Gamal Albinsaid lahir di Malang, 8 September 1989, anak ketiga dari empat bersaudara. Gamal dibesarkan dalam keluarga pengusaha. Ayahnya merintis usaha jual beli mobil, yang berkembang pesat. Gamal dan saudara-saudaranyapun dididik dengan nilai-nilai kewirausahaan sejak kecil. Mereka dilatih berjerih lelah merintis usaha, hingga mampu membiayai sekolah sendiri. “Orang tua saya berkecukupan, cukup berada, tapi mereka mendidik saya untuk berjuang, mereka tidak memberikan semua hal yang saya inginkan sekalipun mereka mampu. Mereka melatih saya merasakan ketidaknyamanan-ketidaknyamanan kehidupan.”, cerita Gamal tentang orang tuanya.

Gamal menamai pola asuh yang diterapkan kedua orang tuanya sebagai delaying gratification (menunda kepuasan). Ia merekam banyak kenangan tentang ini. “Misalnya sesederhana mereka tidak membelikan saya play station, DVD, atau video games. Waktu SMA teman-teman punya handphone, saya tidak dibelikan hape. Meskipun orangtua punya showroom mobil, saya tetap pulang pergi sekolah naik angkot. Ini memberi pengaruh besar pada perjalanan hidup saya dan kakak-kakak saya. Kami jadi terlatih berwirausaha”, kenang Gamal.

Di sekolah, Gamal tercatat sebagai siswa yang cerdas. Ia langganan peringkat tiga besar semasa Sekolah Dasar. Namun saat duduk di kelas 3 SD, Gamal sempat jatuh sakit. Ia menderita asma sampai harus dirawat inap seminggu di rumah sakit. Kondisi sakit-sakitan memengaruhi prestasinya, peringkatnya anjlok drastis, dari 3 besar turun ke urutan 40-an di kelasnya. “Pengalaman itu menumbuhkan empati saya untuk jadi dokter. Sering sakit asma, seminggu dua minggu kambuh, sehingga saya bisa merasakan susahnya orang sakit. Saya bertekad menjadi dokter untuk membantu orang sakit.”, tegas Gamal.

Gamal fokus pada studinya hingga diterima masuk fakultas kedokteran di universitas terbaik di Malang. Gamal juga aktif dalam berbagai organisasi, jadi pengurus OSIS sejak SMA hingga terlibat dalam jaringan mahasiswa kesehatan saat kuliah. Bahkan, Gamal pernah dipercaya menjadi koordinator organisasi promosi kesehatan sedunia untuk mahasiswa dan karier awal kedokteran. “Itu yang melatih saya dalam proses decision making. Di situ saya belajar global culture, belajar leadership dan adaptasi budaya, saya belajar bagaimana organisasi bisa dapat funding, saya menumbuhkan pemikiran dan wawasan internasional. Nilai-nilai di organisasi melatih saya memosisikan diri dengan orang lain, menempatkan diri dengan orang-orang yang kita pimpin, memengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan yang kita impikan.”

Meraih banyak pencapaian di usia muda, justru tidak membuat Gamal jumawa. Kedua orang tuanya selalu menjadi inspirasi utama dalam hidup, untuk melatih empatinya, dan menjaga kakinya tetap berpijak di bumi. Mereka juga memberi pengaruh besar bagi motivasi pribadi dan impian-impian Gamal. “Banyak orang punya motivasi untuk melakukan sesuatu, misalnya untuk aktualisasi diri, atau membawa manfaat. Saya punya impian atau motivasi untuk membahagiakan orang tua, membalas jasa mereka dengan pencapaian-pencapaian saya dalam hidup. Pencapaian bukan hanya dalam konteks prestasi, tetapi juga mengambil pilihan-pilihan yang benar, dan apa yang kita lakukan bisa membawa manfaat. Orang tua sudah berkorban banyak, saya merasa bersalah sekali kalau saya senang-senang saja, atau menggunakan waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Saya percaya bahwa cara kita memperlakukan orang tua, sesungguhnya merupakan pemberitahuan kepada Tuhan bagaimana Tuhan memperlakukan kita.”, tegas Gamal.

garbage-clinical-insurance-17
Dokumentasi: Gamal Albinsaid

KLINIK ASURANSI SAMPAH

Tergerak oleh berita kematian Khairunnisa, tahun 2010 Gamal membuat satu proposal program untuk diikutkan dalam sebuah kompetisi. “Ide proposal berawal dari kisah salah satu dosen saya. Namanya Ibu Rita Rosita. Di kampus, dia cerita pernah bikin asuransi dengan premi 1000 rupiah. Saya dan kawan berusaha memodifikasi programnya dengan sistem premi bukan uang, tetapi sampah.”, urai Gamal.

Gamal ingin mewujudkan program tersebut karena ia percaya bisa membantu banyak keluarga miskin mengakses perawatan kesehatan. Ia memulai program tersebut bersama 5 kawannya, namun 6 bulan kemudian, program tersebut ditutup. “Waktu itu kami kurang pengalaman, kurang leadership. Tapi saya bangkit lagi, saya ajak kawan-kawan tetapi mereka tidak tergerak. Saya ketemu Ibu Rita dan dia kembali membimbing saya. Saya juga minta bimbingan dosen lain, namanya Pak Arief Alamsyah, banyak nilai kepemimpinan yang saya pelajari dari beliau. Kemudian saya mulai lagi sekitar tahun 2012 dengan membuat klinik, replikasi dan sebagainya.”, kenang Gamal.

Beberapa tahun kemudian, setelah klinik yang didirikan Gamal memiliki badan hukum, dua dosennya, Rita Rosita dan Arief Alamsyah, kemudian dipercayakan menjadi Pembina Yayasan. Gamal mengaku Rita dan Arief turut memberi pengaruh besar bagi pilihan kariernya, setelah kedua orang tuanya.

garbage-clinical-insurance-1
Dokumentasi: Gamal Albinsaid

Melalui Klinik Asuransi Sampah (KAS), Gamal berhasil mengubah sistem pembiayaan, dengan memanfaatkan sumber daya yang sebelumnya dianggap tidak berguna, yakni sampah untuk mengakses layanan kesehatan. Berbeda dengan klinik-klinik kesehatan lainnya, KAS menarik premi berbentuk sampah yang dikumpulkan para anggotanya. Kini anggota KAS telah mencapai lebih dari 500 orang. Untuk menjadi anggota KAS persyaratannya cukup mudah. Setiap anggota hanya mengumpulkan sampah organik atau anorganik selama 1 minggu hingga sampah tersebut mencapai nilai premi 10 ribu rupiah. Jika nilai sampai sudah mencapai 10 ribu rupiah, maka anggota berhak mendapatkan asuransi yang berlaku hanya di KAS saja.

Sampah-sampah yang dikumpulkan dari seluruh anggota, ada yang didaur ulang, diteruskan ke pengepul, ada pula yang diolah menjadi pupuk kompos. Uang hasil dari penjualan sampah tersebut digunakan untuk biaya operasional KAS yang kini telah ada di 5 (lima) tempat.

Layanan asuransi yang didapat anggota KAS yaitu asuransi kesehatan primer berupa perawatan utama, diagnosis, laboratorium check-up dan pengobatan di klinik. Penyakit yang ditangani KAS tidak hanya penyakit-penyakit ringan seperti batuk dan pilek, tapi juga gangguan lain seperti darah tinggi, kencing manis, infeksi, hingga sakit jantung dan sakit jiwa. KAS didukung oleh dokter profesional dan perawat yang juga mengembangkan program penyuluhan, promosi kesehatan serta program pencegahan dan rehabilitatif sebagai bagian dari perawatan kesehatan holistik. Salah satu bentuknya, berupa telemedicine, yakni penyuluhan kesehatan melalui telepon.

Saat ini, KAS dikelola di bawah bendera Yayasan Indonesia Medika. Bisnis sosial ini menampung sekitar 50 orang dari berbagai disiplin ilmu dengan usia rata-rata di bawah 25 tahun.

garbage-clinical-insurance-4
Dokumentasi: Gamal Albinsaid

REPLIKASI DI BANYAK LOKASI

Di masa depan, Gamal bercita-cita KAS mampu mendorong tumbuhnya usaha serupa di banyak daerah. Untuk memperluas dampaknya, Gamal sedang mempersiapkan replikasi model asuransinya di sejumlah kota di Indonesia. Pada tingkat nasional, KAS juga sedang bersiap untuk terintegrasi dengan skema asuransi BPJS sehingga dapat memperluas akses kesehatan bagi lebih banyak orang, khususnya kaum miskin.

Gamal dan timnya mendapat banyak dukungan dari instansi pemerintah, universitas, LSM dan perusahaan. “Ini 3 bisnis berbeda, bisnis layanan kesehatan, bisnis asuransi sama bisnis pengolahan sampah. Kita melakukan modifikasi lagi, kita dibantu Cambridge Program Sustainability Leadership, sehingga memudahkan replikasi, hingga tahun 2014, ada sekitar 54 usaha sosial serupa yang kami bantu pengembangannya baik dari swasta, profesional, maupun pemerintah.”, jelas Gamal.

Ada 5 poin rencana pengembangan yang menjadi fokus Gamal, yakni :

  1. Menjadi role model dimana klinik asuransi sampah bisa menjadi contoh bagi usaha sosial lain.
  2. Replikasi masif di banyak tempat, ditargetkan jumlahnya ratusan di seluruh Indonesia.
  3. Pengembangan modifikasi program untuk layanan edukasi, riset dan training.
  4. Mengenalkan asuransi sampah ke level internasional. Saat ini, Gamal dan tim sedang membantu replikasi di Bangladesh.
  5. Sustainable development, memastikan semua replikasi untuk keberlanjutan jangka panjang baik dalam hal finansial maupun manajemen.

Secara personal, Gamal juga berharap kisah hidupnya bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang muda untuk melakukan kebaikan yang sama. Ashoka Young Changemaker tahun 2012 ini percaya tiap orang muda bisa menjadi pembaharu. Menurut Gamal, seorang pembaharu perlu menggali pleasure atau hal-hal yang disukainya, strength atau keahliannya, dan menemukan meaning atau maknanya bagi diri sendiri. Gamal percaya kalau ketiga hal ini bertemu, tiap orang muda bisa membawa perubahan.

“Masa muda itu kayak matahari pukul 12, paling panas, paling terang, masa yang krusial, tapi banyak dari kita melewatkan masa muda begitu saja. Setelah terpilih sebagai Young Changemaker, saya diajarkan dan diarahkan untuk memastikan bahwa masa muda harus bermakna. Karena masa muda itu banyak tekanan, banyak social comparison, banyak tuntutan, Ashoka membantu saya mengaktualisasikan diri, punya daya keberlangsungan yang lama. Jangan biarkan orang lain meremehkan kita hanya karena kita muda. Orang tidak peduli seberapa kaya, seberapa hebat, seberapa pintar diri kita, orang hanya peduli seberapa bermanfaat hidup kita.”, pungkas Gamal mengakhiri cerita perubahannya (story of change) pada Ashoka Indonesia.


Wawancara dan Cerita oleh:

WILIBRODUS MARIANUS (wmarianus@ashoka.org)

Ashoka Indonesia Youth Coordinator

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s