EKO TEGUH PARIPURNO: SETIAP ORANG HARUS JADI AGEN PENGURANG RISIKO (II)

ekoteguhsatu
Photo: Eko Teguh Paripurno

JADI PEMBAHARU (CHANGEMAKER) SEJAK BELIA

Sejak kecil Eko telah terbiasa dengan segala aktivitas yang mendekatkannya pada alam, dan membangun persaudaraan dengan banyak orang. “Saya suka jalan, suka ketemu orang, suka bersahabat. Sejak muda saya gak kenal istilah proyek. Saya ikut kerja apa saja adalah kerja kemanusiaan dan persaudaraan.”

Eko mengaku berasal dari keluarga sederhana, bahkan tergolong miskin. Sejak lahir hingga menjelang masuk TK, Eko tinggal di Pandaan, Jawa Timur bersama ibu dan kakek-neneknya. Ia terpisah dengan ayahnya yang masih kuliah di kota lain. Setelah ayahnya mendapat pekerjaan sebagai guru SMP di Jakarta, Eko dan ibunya hijrah ke ibu kota. Untuk menambah penghasilan, Ibunya menjadi penjual sayur. Mereka menghuni sebuah rumah kontrakan di daerah Jakarta Timur. Eko tinggal sekian tahun di Jakarta, sejak TK hingga kelas 4 SD. Masa kecil saya lebih banyak bermain. Bermain air, bermain rawa, nyari ikan, nyari kangkung di Jakarta. Kalau ke sekolah, setiap pagi jalan kaki dari Kebon Kelapa ke Pisangan, nyebrang ke Jatinegara, sekolah di Jatinegara Timur. “

Ketika berusia sekitar 10 tahun, Eko harus pindah ke Trenggalek, Jawa Timur, karena neneknya meninggal dunia. Di sana ia tinggal bersama ibu dan kakeknya, sementara sang ayah masih tetap bekerja di Jakarta. Bermukim di desa memberi Eko banyak kesempatan untuk bermain. Ia mengaku jarang menghabiskan waktu untuk belajar. Satu-satunya pelajaran yang ia sukai adalah Bahasa Jawa. Karena itu prestasi akademiknya saat SD dan SMP tergolong biasa-biasa saja. “Saya bukan siswa yang pintar dan rajin. Sampai SMA prestasi akademik biasa-biasa saja. SMP sering bolos, SMA pun begitu, suka bolos dengan alasan kegiatan OSIS.”, kenang Eko.

Meski demikian, Eko sangat gemar membaca. Minatnya pada buku sangat besar.  Sempat tinggal di kota besar, Eko tergerak membuka akses bagi kawan-kawannya untuk mendapat bahan bacaan atau majalah anak bermutu. “Waktu kecil saya jadi distributor atau pengepul majalah anak seperti Kuncung dan Kawanku. Saya mencatat nama kawan-kawan yang mau beli majalah, sekitar 20-an anak, langganannya harus ke kantor pos lalu kiriman datang ke rumah saya, kemudian didistribusikan ke kawan-kawan. Karena di desa, kiriman selalu telat. Tapi saya tidak ambil untung, juga tidak rugi. Bagusnya ya nambah kawan dan dapat makan gratis..hehe”, tutur Eko tentang masa kecilnya.

Walau prestasi akademiknya terbilang standar, Eko terlatih menjadi pemimpin sejak belia. Ia jadi langganan ketua kelas, atau ketua kelompok bermain, ketua gerombolan apa saja sejak usia SD. Masuk SMP Eko dipercaya menjadi ketua OSIS, ia aktif dalam ekskul pramuka, serta memimpin klub pencinta alam sejak SMP hingga kuliah. “Saya suka membagi peran pada kawan-kawan. Di bawah sadarku, saya lebih suka orang lain yang mimpin, saya jadi tukang kompor saja, walaupun pada akhirnya saya yang diminta memimpin juga.”

Bicara soal sosok yang memberinya pengaruh sejak kecil, Eko mengaku tidak sangat mengidolakan orang tua atau kakek-neneknya. Ia menaruh rasa kagum yang wajar pada mereka. Eko yang suka baca justru mengidolakan dua sosok yang tidak pernah ia temui secara langsung. Pertama adalah Mahatma Gandhi. Dari kisah hidup Gandhi ia belajar filosofi Ahimsa, yakni berjuang melakukan perubahan tanpa kekerasan, melawan dengan kelembutan. Ia juga mengidolakan RMP Sosrokartono, kakak kandung dari tokoh emansipasi wanita, RA Kartini. “Dia gak ngetop, gak sepopuler Kartini. Dia yang menciptakan jargon ‘sugih tanpa banda (kata tanpa harta), digdaya tanpa aji (sakti tanpa jimat), ngluruk tanpa bala (menyerbu tanpa pasukan), menang tanpa ngasorake (menang tanpa merendahkan).’ Aku benar-benar suka sama Sosrokartono dan Gandhi. Dua tokoh itu yang menjadi idolaku.”, tutur Eko.

ekoteguhdua
Photo: Eko Teguh Paripurno

GEOLOGI KEMANUSIAAN

Minatnya pada alam terutama gunung, mengantar Eko memilih kuliah di jurusan geologi dan mendalami vulkanologi. Eko memilih belajar geologi, karena itu berarti ia bisa bekerja di luar ruangan, dan lebih banyak jalan-jalan. Ketika mendaki beberapa gunung berapi di pulau Jawa, Eko menyadari ia lebih suka menghabiskan waktu bersama warga di desa-desa di sepanjang jalur menuju puncak gunung. Dia juga ikut di berbagai organisasi pencinta lingkungan, hingga berjodoh dengan sesama pendaki gunung.

Lulus dengan minat utama dalam vulkanologi, Eko melanjutkan keterlibatan serius pada lingkungan, dan terus belajar mengembangkan kapasitasnya sebagai pengajar. Ia menyebut bidang ilmu yang ditekuninya sebagai “geologi kemanusiaan”. “Aku suka kumpulin orang, pengen jadi geolog yang humanis. Bukan jadi geolog untuk mineral dan energi. Selama kuliah di UPN Jogja, ada dosen yang saya suka. Karena dia memposisikan pada ruang itu. Namanya Prof. Sampurno, dia dosen pembimbing skripsi asal ITB Bandung. Dia yang mengenalkan human geology atau geologi kemanusiaan. Padahal sebenarnya dia mendalami geologi teknik dan lingkungan. Aku yang mengentalkan lagi menjadi geologi kemanusiaan. Sehingga akhirnya aku memilih fokus ke disaster management. “

Melalui geologi kemanusiaan, Eko mengusung motivasi utama, menjadi geolog yang bertanggung jawab pada lingkungan dan komunitas. Menurut Eko, komunitas harus menjadi subjek yang berdaya, yang punya kemampuan untuk menentukan nasib atau sikapnya sendiri. “Itu motivasi, sehingga di awal aku kuliah itu urusannya ke risiko lingkungan. Ketika orang mencari keuntungan, orientasi pada keuntungan misalnya proyek nyari emas, proyek nyari tambang, pokoknya orientasi pada uang, pertanyaannya satu, lantas dampak buruknya dari ini siapa yang mengelola? Masyarakat harus jadi subjek yang mengelola komunitas dan lingkungannya, karena mereka yang lebih tahu wilayahnya sendiri. Mereka bukan lagi pihak yang disuruh-suruh.”, tegas Eko.

Ke depan, Eko memiliki satu visi mulia: menyadarkan bahwa semua orang bisa menjadi agen pengurang risiko, yakni pribadi yang tidak menambah risiko sesamanya dalam kehidupan sehari-hari. Eko berpendapat kebijakan pembangunan harusnya berorientasi pada pengurangan risiko dalam segala aspek, dan kita semua bisa memulainya dari hal-hal kecil. Misalnya, sesederhana tidak membuang sampah atau tidak ngebut sembarangan. Kesadaran untuk tidak menambah risiko harus tumbuh dari diri sendiri.  

“Jika Ashoka punya visi Everyone A Changemaker, nah saya juga ingin terus mengampanyekan bahwa setiap orang bisa jadi agen pengurang risiko. Biarlah orang membuat kebaikannya sendiri, tapi kita harus mampu mengurangi risiko orang. Yang jadi masalah kebanyakan orang berorientasi pada diri sendiri. Bukan berorientasi pada sesama. Kita jarang bilang kita, lebih memilih bilang aku, kamu, kami, kalian. Yang sulit itu, ketika orang menjadi sangat egosentris dengan macam-macam cara, dengan mengambil, meminta, memaksa. Menikmati kebersamaan semakin langka dibanding menikmati kesendirian. Dunia menjadi semakin sempit. Yang diperlukan sebenarnya keluar dari diri sendiri, untuk memberi, mengajak, membagi. Karena mengurangi risiko bisa terwujud apabila banyak orang mau berkolaborasi. Jangan seenaknya di jalan, jangan korupsi, jangan ganggu orang. Setiap waktu, setiap energi, diusahakan lebih banyak berguna bagi orang lain, dibanding bagi diri sendiri.”, demikian Ashoka Fellow, Eko Teguh Paripurno menutup ceritanya untuk Ashoka Indonesia.

(dari bagian I)


Oleh: Wilibrodus Marianus (wmarianus@ashoka.org)

Ashoka Indonesia Youth Coordinator

Advertisements

One thought on “EKO TEGUH PARIPURNO: SETIAP ORANG HARUS JADI AGEN PENGURANG RISIKO (II)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s