ERA GENERASI PEMBAHARU

“We are entering a generation where everyone will need to be a changemaker”

-Bill Drayton (founder of Ashoka)

dscf3436
Official photo from SMU team. #ChangeGen #LeadYoung

Saat ini, bumi menampung lebih dari 1 miliar orang muda di dunia, jumlah yang terbanyak dalam sejarah peradaban manusia. Sekitar 60 persen dari jumlah penduduk dunia berusia muda di bawah 35 tahun, berada di wilayah Asia Tenggara (ASEAN). Sementara di Indonesia sendiri, berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2015, jumlah pemuda mencapai 62 juta orang, atau sekitar 25 persen dari proporsi jumlah penduduk Indonesia secara keseluruhan.

Jutaan pemuda ini akan menjadi pemilik dan pengelola bumi di masa depan. Generasi yang lama akan digantikan generasi pembaharu. Tidak dapat dipungkiri, saat ini pola pikir dan sistem generasi lama sudah tidak memadai lagi untuk menyesuaikan dengan perubahan dan kemajuan teknologi abad ini. Sebagai orang tua, pendidik, pemerintah dan masyarakat luas, adalah tanggung jawab kita bersama untuk mempersiapkan dan memberdayakan generasi pembaharu ini, untuk berkembang dalam dunia yang terus berubah.

dscf3394
Official photo from SMU team. #ChangeGen #LeadYoung

Jumat lalu (11 November 2016), ratusan orang muda dari berbagai negara berkumpul dalam sebuah konferensi bertajuk “Change Generation”. Pertemuan ini berlangsung di Singapore Management University, yang digagas oleh Ashoka Singapura bermitra dengan Lien Centre for Social Innovation. Lebih dari 250 pemuda, orang tua, penggerak sosial, pemimpin bisnis, pegiat teknologi, serta akademisi hadir dan terkoneksi satu sama lain. Mereka membangun ruang-ruang diskusi bersama 11 Ashoka fellow dan puluhan staf Ashoka dari lintas negara antara lain dari Pakistan, Turki, India, Bangladesh, Malaysia, Singapura, Spanyol, Amerika Serikat, Filipina, Thailand, Kamboja, Korea Selatan, Jerman, Inggris, Afrika Selatan, Peru, Nigeria, dan tak ketinggalan Indonesia.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Official photo from Ashoka. #ChangeGen #LeadYoung

Di antara sejumlah Ashoka fellow yang hadir antara lain ada Tomás Alvarez III, pendiri “Beats Rhymes and Life” dari Oakland, Amerika Serikat. Penerima nominasi CNN Hero 2015 ini berjuang mengupayakan terapi dan penyembuhan untuk anak-anak muda yang mengalami trauma mental dan diskriminasi melalui musik HipHop. Ada pula Yuhyun Park, pendiri yayasan “InfollutionZero”. Yuhyun membuat model standar etika pada anak-anak untuk menjadi warga digital (digital citizens) yang bertanggung jawab, dengan mengembangkan aktivitas-aktivitas interaktif dan menyenangkan supaya anak-anak memiliki pemahaman digital yang baik. Model ini tersebar luas di Korea dan Singapura. Yuhyun berhasil mengampanyekan satu bentuk kecerdasan baru yakni Digital Quotient (DQ), selain kecerdasan yang sudah lebih dulu dikenal seperti IQ (Intelligence Quotient) dan EQ (Emotional Quotient). Hadir pula Misan Rewane, anak muda asal Nigeria yang memberdayakan para pemuda di Afrika Barat agar memiliki keahlian-keahlian utama sebelum menghadapi dunia kerja. Misan juga menghubungkan para pemuda dengan pengusaha atau pencari kerja. Melalui WAVE (West Africa Vocational Education) Academy yang didirikannya, Misan berupaya mengubah paradigma tentang keahlian profesional yang turut mempercepat pertumbuhan ekonomi Afrika.

dscf3632
Official photo from SMU team. #ChangeGen #LeadYoung

Konferensi dibuka dengan sebuah panggilan kesadaran mengenai pentingnya pemuda mengambil peran sebagai pembaharu (young changemaker), diikuti dengan diskusi panel dari Ashoka fellow, pemimpin bisnis, akademisi dan orang tua, semua pemangku kepentingan (stakeholder) yang berfokus mengubah paradigma mengenai nilai-nilai pembaharu (empathy, leadership, teamwork, problem solving). Serta perlunya mempersiapkan dan memberi kesempatan kepada orang muda untuk memimpin dan membuat perubahan.

DSCF3371.JPG
Official photo from SMU team. #ChangeGen #LeadYoung

Ada sejumlah poin kesepakatan yang dihasilkan dari konferensi ini, dengan satu tujuan: menjamin agar generasi muda yang menghuni bumi saat ini, tidak hanya sekadar menjadi generasi masa depan, tetapi lebih dari itu mereka mampu menjadi Generasi Pembaharu (Change Generation) yang memberi perubahan positif bagi dunia. Antara lain:

1. PERCAYA PADA ANAK MUDA

Percayalah bahwa semua orang muda dapat berkontribusi dan memiliki kemampuan untuk melakukan perubahan. Ingatlah bahwa orang tua juga bisa belajar dari anak-anak. Orang tua tidak memiliki semua jawaban. Anak-anak kita memiliki segala kemampuan yang mereka butuhkan untuk berhasil. Tanamkan anak-anak kita mengenai nilai-nilai pembaharu yakni empathy (empati), leadership (kepemimpinan), teamwork (kerja sama) dan problem solving (penyelesaian masalah). Percaya dan dukunglah mereka selalu.

Berikan orang muda kesempatan untuk memimpin dan memiliki pengalaman dunia nyata. Doronglah mereka untuk memulai perjalanan mereka sedini mungkin. Sebab, kepemimpinan tidak diajarkan tapi dikembangkan melalui pengalaman.

2. HADAPI KETAKUTAN DAN KEGAGALAN

Generasi Pembaharu harus siap menghadapi ketakutan. Ketakutan melemahkan niat kita melakukan perubahan. Namun, bagaimana jika rasa takut justru memberi petunjuk untuk melampaui batas diri kita? Nilai-nilai sebagai pembaharu (changemaking) bisa membantu kita mengatasi rasa takut, dengan menyediakan ruang-ruang yang aman dan koneksi ke orang lain.

Definisikan kembali apa makna keberhasilan dan kegagalan. Kegagalan pada anak muda harus dilihat sebagai proses belajar dan bukan sebagai hasil akhir yang mendefinisikan siapa mereka. Sangat penting untuk membantu anak-anak mengambil hikmah dari kegagalan.

3. BEKERJA DALAM EKOSISTEM

Pertama-tama kita harus memiliki pola pikir yang sama tentang tujuan pendidikan. Karena pendidikan adalah urusan semua orang. Pendidikan sejatinya merupakan ide untuk menjadikan kita manusia yang lebih baik, manusia pembaharu. Kemudian, kita butuh sama-sama terlibat, sama-sama berpartisipasi. Semua pemangku kepentingan dalam ekosistem antara lain orang tua, sekolah, pendidik, pemerintah, pebisnis, penggerak sosial, perlu bekerja sama, terkoneksi satu sama lain untuk memecahkan masalah pendidikan yang tujuannya melahirkan Generasi Pembaharu.

Menurut Ross Hall (Director of Education, Ashoka Europe), kita hanya butuh sekitar 16% Change Leaders dari populasi dunia untuk membuat perubahan nyata. 16% orang-orang “gila” yang sudah bergerak kemudian terkoneksi dan berkolaborasi untuk mengundang orang-orang lain turut berubah menjadi pembaharu. Apa yang perlu kita lakukan adalah untuk menemukan para Change Leaders ini, orang-orang yang tepat, yang sudah bergerak melakukan perubahan, yang percaya pada pendidikan untuk memberdayakan anak muda, untuk sungguh-sungguh mendorong lahirnya generasi pembaharu.

4. DIGITAL QUOTIENT

Satu hal yang juga tidak boleh dilupakan dalam era digital saat ini adalah perlunya kita mendidik anak-anak menjadi warga digital (digital citizens) yang bertanggung jawab. Ciptakan teknologi yang mengenalkan nilai-nilai empati dan menciptakan lebih banyak kesempatan bagi anak-anak untuk menjadi pengguna teknologi yang beretika.

5. PERAN PERGURUAN TINGGI

Universitas bisa menjadi mesin untuk perubahan sosial dan harus berada di garis depan dari pergeseran paradigma ini dalam masyarakat. Universitas dapat menjadi pendorong untuk menghadirkan paradigma pembaharu (changemaking) antara mahasiswa dan pihak luar, dan memungkinkan lebih banyak kesempatan untuk kolaborasi, sehingga mahasiswa dapat membawa dampak positif yang nyata dalam masyarakat.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Official photo from Ashoka. #ChangeGen #LeadYoung


Oleh: Wilibrodus Marianus (wmarianus@ashoka.org)

(Ashoka Indonesia Youth Coordinator)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s