LENDO NOVO: PENDIRI SEKOLAH ALAM, PENGGAGAS SOBAT BUMI (Bagian II)

foto-lendo


SEKOLAH YANG MELAHIRKAN PENGUSAHA

Setelah merintis konsep Sekolah Alam untuk pendidikan dasar, sejumlah orang tua murid yang percaya terhadap gagasan pembaharuan di dunia pendidikan, meminta Lendo meneruskan riset hingga ke jenjang pendidikan menengah (SMP dan SMA). Ia menemukan masalah pokok pada level pendidikan menengah yakni siswa tidak disiapkan untuk mencari nafkah secara mandiri.

“Saat ini ada sekitar 40 juta orang Indonesia merupakan pengangguran terbuka, dengan life skill yang terbatas, karena tidak banyak dibekali di sekolah-sekolah umum dan lapangan kerja yang terbatas pertumbuhannya. Sebagian besar sistem pendidikan bisnis di dunia ternyata juga belum mampu melahirkan banyak pengusaha. Kampus bisnis seperti Harvard, MIT Sloan, Stanford, Oxford, SBM ITB, Binus dan lainnya, sebagian besar lulusannya (lebih dari 90%) justru memilih bekerja di perusahaan-perusahaan besar seperti McKinsey, Boston Consulting, JP Morgan dan lainnya. Sampai hari ini, belum ada satu pun kampus bisnis yang berhasil menjadikan 50% lebih lulusannya sebagai pengusaha. Karena itu, solusi terbaik bagi sistem pendidikan masa depan adalah melahirkan sebanyak-banyaknya pengusaha muda yang mampu menyediakan peluang bagi dirinya sendiri dan orang lain.”, ujar Lendo menjelaskan hasil kajiannya.

Berangkat dari masalah itulah, Lendo lalu merancang konsep pendidikan yang bertujuan melahirkan pengusaha. Karena sebagian besar sistem pendidikan gagal melahirkan pengusaha, Lendo mengusulkan perlunya berguru pada pranata lain seperti keluarga atau komunitas. Menurut Lendo, institusi yang paling banyak melahirkan pengusaha di dunia adalah bisnis keluarga (family business). “Sebagai contoh seorang pengusaha restoran Padang sejak kecil melatih anaknya magang mengelola restoran, setelah dewasa dipastikan anaknya mampu membangun bisnis restoran. Seorang pedagang retail sejak kecil melatih anaknya magang mengelola tokonya, setelah dewasa dipastikan anaknya mampu mengembangkan bisnis retail sendiri. Dan begitu seterusnya, berbagai macam bisnis sesuai dengan passion-nya.”, terang Lendo.

Lendo menemukan tiga skema utama dari bisnis keluarga yang dapat diadopsi menjadi sistem pendidikan, yakni: business environment (lingkungan bisnis), business maestro (pengusaha yang terbukti sukses) dan internship (proses magang bersama maestro). Jika tiga skema di atas diintegrasikan dengan sistem pendidikan pada umumnya, Lendo yakin akan melahirkan sekolah yang revolusioner, dimana media belajarnya adalah lingkungan bisnis itu sendiri, cara belajarnya bersama maestro (pengusaha sukses), tutor (dosen/ praktisi bisnis) dan mentor (pendamping bisnis), dengan porsi belajar praktis/ magang mencapai 70%, sedangkan teori dan konsultasi sebesar 30%.

Konsep pendidikan bisnis dengan pendekatan “learning from maestro” ini dinamai Sekolah untuk Pengusaha Muda (school for young entrepreneurs). Dikembangkan sejak 2004, sekolah bisnis rintisan Lendo telah mencetak lebih dari 50% lulusannya menjadi pengusaha.  Kebanyakan lulusan menekuni bisnis sesuai bakat dan minat mereka. Ada yang menjadi produser musik, pengusaha studio motor custom bike, desainer produk, pialang saham, pemilik bisnis kecantikan, kuliner, dan fashion, ada pula sound engineer, konsultan marketing, pengusaha property, fotografer, animator dan lainnya.

Meski dinilai berhasil, sekolah bisnis yang dikembangkan Lendo bukan tanpa hambatan. Tantangan terbesar justru berasal dari para orang tua yang pesimis terhadap konsep pendidikan ini, serta keengganan pengusaha untuk membagi ilmunya.

‘Sehingga kami harus menegaskan bahwa yang dapat disebut sebagai “maestro” hanyalah pengusaha sukses yang mau membagi ilmunya kepada sesama.”, ujar Lendo.

Lendo bermimpi di masa depan boleh jadi seorang mahasiswa bisa magang antarnegara, tanpa batas. Jika mimpi itu terjadi maka seluruh mahasiswa akan menjadi warga dunia sekaligus bisa mempersatukan dunia melalui jejaring bisnis.


GERAKAN SOBAT BUMI

Kiprah Lendo sebagai pembaharu terus berkembang seiring bertambahnya usia. Setelah sukses merintis Sekolah Alam dan Sekolah untuk Pengusaha Muda, kini Lendo berfokus membangun peradaban atau masyarakat ramah lingkungan.

Setahun lamanya Lendo melakukan studi dan berdiskusi secara intens dengan para sahabat seperjuangan, kemudian mereka bersama berikhtiar membangun gerakan sosial “SobatBumi”, sejak 2011. “Kami menggunakan teori narasi dalam menyusun gerakan SobatBumi. Teori narasi kami yakini dapat dijadikan pijakan yang kuat dalam upaya membangun kehidupan yang ramah lingkungan.”, jelas Lendo.

Narasi yang dibangun oleh Lendo dan rekan-rekannya, sejatinya merupakan studi perbandingan antara kearifan lokal Indonesia yang dikembangkan sejak ratusan tahun lalu, dengan pola hidup ramah lingkungan yang dirintis oleh negara-negara maju saat ini. Kesimpulan awal dari studi perbandingan ini adalah: pola hidup ramah lingkungan yang dikembangkan oleh manusia Indonesia didasari keyakinan spiritual, sedangkan pola hidup ramah lingkungan yang dikembangkan oleh negara-negara maju semata-mata didasari prinsip efisiensi ekonomi.

Berawal dari studi inilah kemudian lahir gerakan SobatBumi.  SobatBumi adalah sebuah ajakan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk menjaga Ibu Pertiwi (hutan dan laut) dari keserakahan manusia. Sebab Ibu Pertiwi sejak dulu kala selalu memberi kesejahteraan bagi manusia Indonesia sepanjang hidupnya. Keanekaragaman hayati Indonesia baik hutan dan lautnya merupakan yang terbesar di dunia. Bahkan hutan Indonesia berperan sebagai penyerap karbon dan pemberi oksigen bagi dunia, sedangkan lautnya  berkontribusi bagi pangan dunia. Apabila kita dapat mengelola hutan dan laut secara seimbang, maka bangsa Indonesia dapat berperan sentral bagi kestabilan iklim dunia. Sebab, seluruh kebutuhan hidup manusia sesungguhnya dapat terpenuhi, apabila kita mampu hidup secara seimbang dengan lingkungan.

Untuk mewujudkan misi mulia tersebut, gerakan “SobatBumi” mengembangkan konsep ramah lingkungan yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, yaitu: energi baru terbarukan, manajemen sumber daya air, manajemen sampah, pangan organik, industri jamu (herbal), pendidikan hijau, transportasi hijau, ruang terbuka hijau, arsitektur hijau dan bisnis ramah lingkungan.

Sejak 2011 hingga 2016, gerakan SobatBumi telah berhasil menabung 105 juta pohon, mengembangkan 300 lebih sekolah SobatBumi, memberi beasiswa bagi mahasiswa yang menjadi aktivis lingkungan, memberi bantuan biaya untuk puluhan peneliti yang fokus pada upaya membangun kehidupan ramah lingkungan, menyusun buku panduan arsitektur ramah lingkungan, menyiapkan akademi tabung pohon, serta merancang 3 kebun raya (biodiversity centre) yang bekerjasama dengan perguruan tinggi, dan pemerintah.

Pada tahun 2016, gerakan SobatBumi mulai merancang sebuah konsep “kampung in the garden”. Bersama para Alumni ITB dan Forum Komunitas Hijau, Lendo dan rekan-rekannya mendampingi masyarakat Kampung Setu Pengasinan, di Depok, Jawa Barat, untuk mewujudkan kehidupan ramah lingkungan berbasis kampung seluas 61 hektar.

Untuk membangun ”kampung in the garden” tahapan yang dilalui SobatBumi tidak singkat. Mereka melalui serangkaian dialog hingga terjadi kesepakatan untuk perubahan revolusioner dalam menata kampung, lalu merancang arsitektur lanskap secara partisipatif, menyiapkan masyarakat untuk bangkit membangun kampungnya secara swadaya, hingga pelaksanaan gagasan secara gotong-royong.

Diperlukan waktu 3 tahun untuk proses pendampingan masyarakat, serta 10 tahun untuk membangun kesejahteraan bersama antara pendamping dan masyarakat. Dan jika ini berhasil, butuh waktu 23 tahun untuk melakukan replikasi konsep “kampung in the garden” ke seluruh Indonesia dan dunia.

sobatbumi


VISI MELAHIRKAN PEMIMPIN-PEMIMPIN BARU

Setelah berhasil mewujudkan gerakan masyarakat ramah lingkungan, Lendo tetap menyalakan impian untuk melahirkan banyak pemimpin Indonesia di masa depan. Lendo punya visi akbar, solusi dan konsep-konsep pembangunan yang dikembangkannya dapat tersebar luas, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga dunia. Pada fase inilah, perlu dirancang sebuah strategi untuk melahirkan pemimpin-pemimpin baru dalam jumlah besar. Ini sesuai visi Ashoka, mewujudkan dunia dimana semua orang dapat menjadi pembaharu (Everyone A Changemaker).

Ashoka Fellow yang terpilih sejak tahun 2003 ini bercita-cita menambah satu konsep pendidikan baru yang disebutnya “Sekolah Pemimpin”, sebagai kawah candradimuka atau wadah penempaan calon pemimpin masa depan.

Pada praktiknya nanti, Sekolah Pemimpin menyediakan ruang bagi calon pembaharu untuk mendampingi masyarakat menyelesaikan masalah secara partisipatif, mengomunikasikan gagasan-gagasan mereka secara masif, dan mereplikasi karya-karya mereka melalui gerakan sosial yang terstruktur.

Menurut Lendo, idealnya Sekolah Pemimpin perlu waktu minimal 10 tahun dalam proses pendampingan. Dimulai dari tahapan mengaktualisasikan gagasan-gagasan pembaharuan di masyarakat, menyiapkan tim kampanye yang fokus mempromosikan kepemimpinan yang berhasil, dan pelatihan pengorganisasian masyarakat secara berkelanjutan.

“Kepemimpinan memiliki posisi yang paling penting dalam mewujudkan gerakan sosial, serta kehidupan yang adil dan Rahmatan Lil Alamin. Karena melalui kepemimpinan terbaiklah akan lahir sebuah peradaban yang terbaik. Sebaik-baiknya manusia adalah pemimpin yang paling bermanfaat bagi rakyatnya.”, demikian Lendo Novo mengakhiri cerita perubahan (story of change) yang telah digelutinya puluhan tahun, kepada Ashoka Indonesia.

(dari bagian I)


Disunting oleh: Wilibrodus Marianus

(Ashoka Indonesia Youth Coordinator)

wmarianus@ashoka.org

Advertisements

One thought on “LENDO NOVO: PENDIRI SEKOLAH ALAM, PENGGAGAS SOBAT BUMI (Bagian II)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s